Selasa, 07 APRIL 2026 • 12:50 WIB

Perang Iran Beri Guncangan Minyak ke Ekonomi India yang Lagi dalam Optimisme Tinggi

Author

Ilustrasi pasokan bahan bakar minyak (freepik). 

INDOZONE.ID - Optimisme Bank Sentrak India terhadap situasi ekonomi pudar seiring perang di Timur Tengah yang mengganggu pasar minyak.

Dampaknya paling terlihat pada mata uang India, rupee, yang mencapai rekor terendah. Dalam setahun terakhir, rupee melemah hampir 10 persen terhadap dolar AS.

Intervensi bank sentral memang sedikit menahan laju pelemahan. Namun para ahli memperkirakan penurunan lebih tajam akan terjadi tergantung berapa lama konflik berlangsung.

Baca juga: Program Bedah Rumah BSPS 400 Ribu Unit Dinilai Penting, Pengamat Tekankan Tepat Sasaran

Skenario Terburuk: Rupee Bisa Tembus 110 per Dolar AS

Firma riset ekuitas global Bernstein merilis proyeksi mengerikan. Dalam skenario terburuk di mana perang berlangsung hampir sepanjang 2026, dampaknya bisa "bencana" bagi rupee.

Nilai tukar bisa terjun bebas melampaui 110 rupee per dolar AS. Namun bahkan jika perang berakhir lebih cepat, tekanan terhadap mata uang India diperkirakan masih berlanjut.

Pelemahan rupee yang terus-menerus berdampak luas. Harga barang naik, margin perusahaan turun, defisit pemerintah membengkak, dan aliran modal ke pasar saham menipis.

Indeks acuan saham India sudah turun sekitar 12 persen sejak awal tahun. Hal ini menggerus efek kekayaan yang selama ini mendorong konsumsi kelas kaya.

Baca juga: Harga Minyak Bergejolak Setelah Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Penting Iran

Pertumbuhan dan Inflasi Ikut Tertekan

Kementerian Keuangan India mengakui ketegangan global mulai membebani prospek inflasi dan pertumbuhan. Biaya impor dan logistik yang lebih tinggi menjadi pemicu utama.

Selain itu, pengiriman uang dari 10 juta warga India yang tinggal di Teluk juga berpotensi menurun. Faktor ini dinilai bisa berdampak "signifikan" terhadap berbagai indikator ekonomi.

Produk Domestik Bruto (PDB) sebelumnya diprediksi tumbuh 7 persen di tahun fiskal 2026-2027. Namun krisis di Teluk disebut bisa memangkas pertumbuhan hingga 1 persen.

Ambisi India untuk melampaui Jepang sebagai ekonomi terbesar keempat dunia pun bakal tertunda. Apalagi ini terjadi setelah revisi turun proyeksi PDB akibat perubahan tahun dasar statistik.

Baca juga: Sertifikasi Jadi Nilai Tambah di Program MagangHub, Kemnaker Siapkan Skema Reward bagi Perusahaan

Harga BBM Masih Tertahan, Tapi Krisis Energi Multifaset

Soal inflasi, harga pangan mulai melonjak. Namun untungnya, konflik belum mendorong kenaikan harga BBM di pompa karena pemerintah menyerap guncangan harga.

India memotong cukai bensin dan solar untuk melindungi konsumen jelang pemilu penting. Pemerintah juga mengenakan pajak kekayaan mendadak (windfall tax) pada ekspor.

Namun guncangan energi ini bersifat multifaset. India adalah importir minyak mentah terbesar ketiga dunia, tapi ketergantungan pada kawasan itu sangat tinggi.

Enam puluh persen gas alam dan lebih dari 90 persen impor LPG India berasal dari kawasan Timur Tengah. Seperempat impor pupuknya juga dari sana.

Baca juga: Dampak Konflik AS, Israel, dan Iran Terhadap Harga Emas, Apa Saja?

Gangguan pasokan pupuk bisa mengganggu ekonomi agraris secara luas, terutama di musim tanam mendatang. Apalagi ada peningkatan probabilitas fenomena cuaca El Niño.

Restoran Tutup, Pekerja Migran Mulai Pulang

"Kekhawatiran lebih besar bagi ekonomi India adalah kelangkaan absolut," kata ekonom Shilan Shah dan Mark Williams dari Capital Economics. Dampaknya sudah mulai terasa.

Kelangkaan LPG memicu penutupan sebagian atau total restoran dan hotel. Pabrik pengolahan makanan, industri keramik, hingga layanan pemakaman juga terdampak.

Mantan penasihat ekonomi India, Arvind Subramanian, menyebut ini sebagai "goncangan stagflasi dengan magnitudo cukup besar". Stagflasi adalah kondisi inflasi naik tapi pertumbuhan stagnan.

Baca juga: Menkeu: BBM Subsidi Stabil hingga Akhir Tahun 2026

"Bagian stagnasi dari stagflasi sudah terasa dalam hal restoran tutup dan rumah tangga kekurangan gas alam," ujar Subramanian.

Yang lebih mengkhawatirkan, situasi ini mengingatkan pada era lockdown Covid. Guncangan pasokan LPG membuat sebagian pekerja migran dari kota besar seperti Mumbai kembali ke kampung halaman.

Ekonom khawatir ini bisa memicu masalah sisi pasokan jika tenaga kerja mulai langka dan upah naik. Pemerintah sudah merespons dengan mengusulkan dana stabilisasi ekonomi 6,2 miliar dolar AS.

Dana ini akan digunakan untuk subsidi pangan dan pupuk. Namun menurut Bernstein, jumlahnya "relatif sederhana dibandingkan skala tantangan" yang dihadapi.

Baca juga: Bolehkah Debt Collector Menagih ke Keluarga? Ini Penjelasan Hukumnya yang Perlu Kamu Tahu

Bank sentral diprediksi akan menahan suku bunga pekan ini. Strategi 'tunggu dan lihat' dinilai paling bijak mengingat ketidakpastian kapan konflik berakhir.

Di tengah tantangan, masih ada secercah harapan. Rupee yang lebih lemah bisa membantu meningkatkan daya saing ekspor India. Cadangan devisa yang memadai juga memberi bantalan.

Namun seperti halnya tarif Trump dulu memicu reformasi perdagangan, krisis ini adalah panggilan bangun. 

India perlu strategi jangka pendek hingga panjang untuk kerentanan sektor energi, termasuk transisi lebih cepat ke energi terbarukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BBC

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU