Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 06 APRIL 2026 • 15:46 WIB

Menkeu: BBM Subsidi Stabil hingga Akhir Tahun 2026

Menkeu: BBM Subsidi Stabil hingga Akhir Tahun 2026Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

INDOZONE.ID - Kekhawatiran masyarakat soal potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat di tengah lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada pasar energi global.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun ini. Kepastian itu disampaikan setelah pemerintah menghitung kemampuan anggaran dalam berbagai skenario harga minyak.

“Kami sudah menghitung dengan asumsi harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun. Dalam kondisi tersebut, harga BBM bersubsidi tetap kami jaga,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

Anggaran Subsidi Masih Mencukupi

Pemerintah telah menyiapkan simulasi berdasarkan beberapa kemungkinan pergerakan harga minyak dunia, mulai dari 80 hingga 100 dolar AS per barel. Dari hasil perhitungan tersebut, anggaran subsidi energi dinilai masih mampu menahan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Dengan perencanaan ini, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap lonjakan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat.

Baca juga: Harga BBM Terbaru 1 April 2026: Lengkap dari Pertamina, Shell, Vivo, dan BP

Cadangan Dana Jadi Penopang

Untuk menjaga stabilitas, pemerintah tidak hanya mengandalkan APBN berjalan. Terdapat pula dana cadangan yang bisa dimanfaatkan jika tekanan harga energi semakin besar, yaitu Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang nilainya mencapai sekitar Rp420 triliun.

Sebagian dari dana tersebut, sekitar Rp200 triliun, tersimpan di perbankan dan dapat digunakan sebagai bantalan fiskal. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan penerimaan dari sektor energi dan sumber daya mineral sebagai tambahan pemasukan negara.

Peningkatan harga komoditas global, seperti minyak dan batu bara, dinilai berpotensi memberikan kontribusi lebih terhadap penerimaan negara.

Efisiensi Belanja untuk Jaga Defisit

Langkah lain yang ditempuh adalah melakukan penghematan belanja di kementerian dan lembaga. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ruang fiskal tetap sehat tanpa harus terlalu bergantung pada cadangan dana.

Pasalnya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban subsidi hingga sekitar Rp6,8 triliun. Oleh karena itu, pengendalian belanja menjadi strategi penting agar defisit anggaran tetap berada di kisaran target 2,92 persen.

Baca juga: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, Apa Kata Ekonom?

Harga BBM Non-Subsidi Tetap Fleksibel

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi tidak berada dalam kendali penuh pemerintah. Harga jenis BBM ini mengikuti mekanisme pasar, sehingga bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.

Dengan kondisi global yang masih dinamis, masyarakat diimbau untuk memahami bahwa stabilitas harga hanya berlaku pada BBM bersubsidi, sementara BBM non-subsidi tetap berpotensi mengalami penyesuaian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menkeu: BBM Subsidi Stabil hingga Akhir Tahun 2026

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!