Ilustrasi utang luar negeri Indonesia naik (REUTERS/Willy Kurniawan)
INDOZONE.ID - Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp7.200 triliun (kurs Rp16.200 per dolar AS). Angka ini tumbuh 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski mengalami kenaikan, BI menegaskan kondisi utang Indonesia masih dalam batas aman. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 29,9 persen, atau masih berada di level yang dinilai sehat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kenaikan utang luar negeri dipengaruhi oleh bertambahnya utang pemerintah dan Bank Indonesia.
Sementara itu, utang sektor swasta masih mengalami penurunan, meski tidak sedalam bulan sebelumnya.
Baca juga: 10 Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?
Pada Mei 2026, utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar US$217,3 miliar atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan.
Menurut BI, kenaikan tersebut didorong oleh masuknya dana investor asing melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Hal ini dinilai menjadi sinyal bahwa investor masih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah juga memastikan akan terus mengelola utang secara hati-hati, termasuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga tepat waktu agar kredibilitas Indonesia tetap terjaga.
Sebagian besar dana dari utang luar negeri digunakan untuk membiayai sektor-sektor produktif, seperti layanan kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, hingga transportasi.
Berbeda dengan pemerintah, utang luar negeri swasta justru masih mengalami kontraksi.
Hingga Mei 2026, nilai utang swasta tercatat US$195,9 miliar, turun 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, penurunannya lebih kecil dibandingkan April 2026 yang sempat turun 0,5 persen.
Utang swasta paling banyak berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, penyediaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan.
Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total utang luar negeri swasta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara