Ilustrasi pembangkit listrik batu bara. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah mendengar istilah bullwhip effect? Dalam dunia logistik dan rantai pasok, istilah ini menggambarkan suatu gangguan kecil di satu titik yang dapat menimbulkan dampak besar pada kehidupan masyarakat. Kok bisa?
Efek bullwhip nampaknya sering terjadi di rantai pasok batu bara. Sementara di sebagian wilayah, batu bara jadi sumber utama pembangkit listrik.
Fenomena bullwhip effect ini menjadi perhatian penting dalam distribusi batu bara. Saat pasokan terganggu, semua aktivitas industri dan masyarakat yang bergantung pada sumber listrik dari batu bara bakal kena imbasnya.
Direktur PT Oktasan Baruna Persada, Tomi Hadi menjelaskan, pengelolaan logistik energi membutuhkan tingkat ketelitian dan disiplin yang tinggi. Jika ada keterlambatan kecil dalam proses distribusi, tentu akan memengaruhi keseluruhan rantai pasoknya.
Baca juga: Apa Itu Depresiasi dan Inflasi? Simak Perbedaannya di Sini
“Dalam logistik energi, keterlambatan di satu titik dapat berdampak pada tahapan pengiriman berikutnya. Karena itu, pengelolaan rantai pasok harus dilakukan secara presisi, mulai dari perencanaan, kesiapan armada, pemantauan perjalanan, hingga kepatuhan terhadap prosedur di titik muat dan bongkar,” ujar Tomi kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Tomi mengungkapkan bahwa tantangan distribusi batu bara sebenarnya tidak hanya terjadi pada saat proses pengiriman dari lokasi tambang menuju pembangkit.
Tantangan terbesar lainnya adalah memastikan setiap tahapan berjalan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan bullwhip effect di sektor hilir.
Dalam praktiknya, bullwhip effect bisa terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari cuaca buruk, antrean kapal di pelabuhan, keterbatasan armada, hingga kendala bongkar muat.
Baca juga: Mengenal Apa Itu BUMD: Ini Tujuannya dalam Memajukan Perekonomian Daerah Kamu
Sebagai solusinya, menurut Tomi, sebuah perusahaan logistik batu bara perlu memiliki sistem pemantauan yang kuat, standar proses yang jelas, serta sumber daya manusia yang memahami risiko operasional di lapangan. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi untuk membantu pengawasan distribusi.
“Teknologi bisa dimanfaatkan untuk membantu proses pengawasan, tetapi eksekusi tetap sangat bergantung pada disiplin dan kualitas manusia di setiap tahapan," tambahnya.
Tomi juga menilai, menjaga ketepatan waktu pengiriman tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas angkut. Perusahaan juga perlu memperkuat perencanaan, koordinasi lintas operasional, serta manajemen risiko agar distribusi energi tetap berjalan lancar dan efisien.
Selain itu, tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) juga menjadi faktor penting dalam menjaga rantai pasok energi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan