INDOZONE.ID - Istilah “high risk, high return” dalam investasi adalah realita yang jadi dasar pergerakan pasar keuangan.
Makanya, sebelum kamu mulai investasi, penting untuk paham konsep aset berisiko biar nggak asal masuk dan berujung boncos.
Baca juga: Apa Itu Indeks LQ45? Ini Pengertian dan Daftar Sahamnya
Apa Itu Aset Berisiko?
Secara simpel, aset berisiko (risky assets) adalah instrumen investasi yang nilainya bisa naik-turun cukup drastis dan nggak menjamin keuntungan pasti.
Berbeda dengan aset yang lebih stabil seperti obligasi pemerintah, aset berisiko sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, hingga sentimen pasar.
Salah satu contoh paling umum dari aset berisiko adalah saham. Kenapa? Karena saat kamu beli saham, kamu ikut menjadi pemilik perusahaan tersebut.
Kenapa Saham Disebut Aset Berisiko?
Ada beberapa jenis risiko yang membuat saham masuk ke dalam kategori ini.
1. Market Risk (Risiko Pasar)
Risiko yang datang dari kondisi global atau nasional. Misalnya inflasi naik atau situasi politik nggak stabil, harga saham bisa ikut turun bersamaan.
Baca juga: Investasi Pasif dan Investasi Aktif, Mana yang Cocok untuk Kamu?
2. Liquidity Risk (Risiko Likuiditas)
Terkadang ada saham yang susah dijual cepat karena sepi peminat. Jadi, kamu nggak bisa langsung cairkan dana sesuai harga yang diinginkan.
3. Business Risk (Risiko Bisnis)
Risiko dari dalam perusahaan itu sendiri, seperti produk gagal, manajemen bermasalah, hingga kalah bersaing.
Ciri-Ciri Aset Berisiko
Agar semakin paham, berikut adalah karakteristik utamanya.
1. Volatilitas Tinggi
Harga bisa naik hari ini, tapi besok bisa langsung turun. Fluktuasi ini hal biasa di aset berisiko.
2. Potensi Return Lebih Besar
Walau berisiko, imbal hasilnya juga bisa jauh lebih tinggi dibanding tabungan atau deposito.
3. Sensitif Terhadap Berita
Data ekonomi seperti suku bunga, inflasi, atau GDP bisa langsung memengaruhi harga.
Baca juga: Apa Itu Bullish dan Bearish dalam Investasi Saham? Ini Perbedaannya
Strategi Menghadapi Aset Berisiko
Risiko itu nggak harus dihindari, tapi harus dikelola. Berikut beberapa cara untuk menghadapinya.
1. Diversifikasi
Jangan taruh semua uang di satu aset. Sebar investasi kamu ke beberapa sektor agar kalau satu turun, yang lain masih menstabilkan.
2. Lakukan Analisis
Lakukan Analisis fundamental dengan lihat kondisi perusahaan dan analisis teknikal untuk lihat pergerakan harga. Dua-duanya penting agar keputusan kamu nggak asal tebak.
3. Kenali Profil Risiko
Yakinkan diri sendiri dengan bertanya, siap nggak lihat portofolio merah? Atau lebih nyaman yang stabil? Jawaban ini akan menentukan strategi investasi kamu.
Baca juga: Lebih Baik Investasi Reksadana atau Emas? Simak Perbandingannya
Aset berisiko, terutama saham, memang memiliki potensi cuan besar. Tapi di balik itu, ada risiko yang harus kamu pahami. Kuncinya jangan asal ikut tren, memiliki strategi jelas, hingga mengontrol emosi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Maybanktrade