Ilustrasi investor menghadapi bullish dan bearish. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Investasi saham sekarang semakin dilirik banyak orang, apalagi untuk yang mau mulai bangun cuan jangka panjang. Tapi sebelum terjun lebih jauh, ada istilah dasar yang wajib kamu pahami, yaitu bullish dan bearish.
Secara simpel, harga saham itu selalu naik turun karena dipengaruhi permintaan dan penawaran.
Nah, dari pergerakan itu, muncul tren pasar yang biasanya disebut bullish atau bearish. Dua istilah ini sering dipakai investor untuk menentukan kondisi pasar sedang naik atau turun.
Baca juga: Apa Itu Withdraw Saham? Simak Cara Kerja dan Tips Aman Melakukannya
Bullish adalah kondisi pasar saat harga saham sedang naik atau menunjukkan tren menguat. Biasanya, grafik akan terlihat menanjak ke atas.
Istilah ini dilambangkan dengan banteng yang menyerang dengan tandukan ke atas. Makanya, kondisi bullish identik dengan kenaikan.
Dalam fase ini, pasar lagi ramai aksi beli. Banyak investor optimistis jika harga akan terus naik, jadi mereka berlomba-lomba masuk pasar atau menahan saham lebih lama dengan harapan cuan lebih besar ke depannya.
Jika kamu lihat harga saham naik terus-menerus dalam periode tertentu dan sentimen pasar sedang positif, itu tandanya pasar lagi bullish.
Baca juga: Mengenal IDX30, Indeks Saham dengan Likuiditas Tinggi
Kebalikan dari bullish, bearish adalah kondisi pasar saat harga saham sedang turun atau melemah. Grafik biasanya terlihat menukik ke bawah.
Istilah ini diambil dari cara beruang menyerang, yaitu mencakar dari atas ke bawah. Makanya, bearish identik dengan penurunan.
Dalam kondisi ini, pasar didominasi aksi jual. Banyak investor mulai pesimis dan khawatir harga akan terus turun, jadi mereka memilih jual saham untuk menghindari kerugian lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BNI Sekuritas