Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (REUTERS/Brendan McDermid)
INDOZONE.ID - Pemerintah Filipina resmi menetapkan keadaan darurat nasional di sektor energi pada Selasa (24/3/2026), menjadikannya negara pertama yang mengambil langkah tersebut di tengah terganggunya rantai pasok energi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan GMA News, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan status darurat.
Kebijakan ini sekaligus mengaktifkan respons nasional guna menstabilkan pasokan energi dan menekan dampak ekonomi dari lonjakan harga bahan bakar.
Sebagai bagian dari upaya penanganan, pemerintah meluncurkan program “UPLIFT”, sebuah kerangka dukungan komprehensif yang menyasar berbagai aspek, mulai dari kehidupan masyarakat hingga sektor industri, pangan, dan transportasi.
Program ini difokuskan untuk membantu sektor-sektor krusial seperti transportasi, pertanian, dan UMKM.
Baca juga: Harga Minyak Tembus Rekor! Perang Iran Cekik Pasokan, Dunia Kelimpungan
Otoritas setempat menyebut penetapan status darurat memberikan kewenangan lebih luas bagi pemerintah pusat untuk menerapkan pendekatan terpadu.
Dengan langkah ini, distribusi bahan bakar dapat diatur lebih efisien, sumber daya bisa dimobilisasi secara optimal, serta bantuan dapat disalurkan tepat sasaran kepada kelompok yang terdampak.
Filipina diketahui masih bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, dengan sekitar 26 persen kebutuhan nasional dipenuhi dari wilayah tersebut. Pada 2024, total belanja energi dari kawasan itu mencapai 16 miliar dolar AS.
Situasi ini dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia sejak serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari.
Baca juga: Harga Minyak Melejit, Perang Iran Picu Krisis Energi Global
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar sejumlah negara, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, Teheran juga mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA