Ilustrasi Mengenal Perbedaan Indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 di BEI. (Freepik)
INDOZONE.ID - Saat memulai investasi, memahami cara memilih saham yang tepat sama pentingnya dengan mempelajari strategi. Salah satu hal dasar yang perlu diketahui investor adalah indeks saham.
Indeks saham merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur pergerakan harga sekelompok saham tertentu di pasar modal. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat beberapa indeks populer yang sering dijadikan acuan investor, yaitu LQ45, IDX30, dan IDX80.
Baca juga: Biar Nggak Ketinggalan Inflow Asing, Catat Jadwal Rebalancing MSCI Agustus & November 2026
Melalui indeks, investor bisa melihat kondisi pasar, tren pergerakan saham, hingga menjadi acuan dalam menyusun strategi investasi.
LQ45 merupakan indeks yang berisi 45 saham dengan tingkat likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, serta didukung fundamental perusahaan yang baik.
Indeks ini pertama kali diluncurkan pada 1 Februari 1997 dan hingga kini menjadi salah satu acuan utama bagi investor maupun manajer investasi dalam melihat pergerakan saham-saham unggulan di Indonesia.
Baca juga: COO Danantara Tegaskan Transparansi Data Investasi untuk Perkuat Kepercayaan Investor
Umumnya, saham yang masuk ke dalam LQ45 berasal dari perusahaan-perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar besar dan aktivitas transaksi yang tinggi selama 12 bulan terakhir.
Keberadaan LQ45 juga berfungsi sebagai pelengkap IHSG sekaligus memberikan referensi yang lebih spesifik bagi investor yang ingin fokus pada saham-saham unggulan.
Jika LQ45 berisi 45 saham, maka IDX30 hanya mencakup 30 saham terbaik yang berasal dari kelompok saham LQ45.
Indeks ini digunakan untuk mengukur kinerja saham-saham dengan likuiditas sangat tinggi, kapitalisasi pasar besar, dan fundamental yang kuat. Karena jumlah konstituennya lebih sedikit, IDX30 sering dianggap sebagai versi yang lebih selektif dibandingkan LQ45.
Kehadiran IDX30 memudahkan investor yang ingin fokus pada saham-saham paling aktif dan memiliki nilai pasar besar tanpa harus menganalisis terlalu banyak emiten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cermati.com