Korban konflik kmanusiaan di Gaza (Handout)
INDOZONE.ID - Warga Palestina di Gaza mengeluhkan lonjakan tajam biaya listrik dari generator swasta, seiring meningkatnya ketergantungan terhadap sumber energi alternatif setelah jaringan listrik publik hancur akibat perang yang berkepanjangan.
Keterbatasan pasokan bahan bakar dan harga yang melambung tinggi dibandingkan sebelum perang membuat tarif listrik melonjak drastis. Harga per kilowatt-jam yang sebelumnya sekitar 2,5 shekel (sekitar 0,80 dolar AS) kini naik menjadi 20 hingga 30 shekel (sekitar 7–10 dolar AS), atau hampir 10 kali lipat. Kondisi ini membuat listrik semakin sulit dijangkau oleh banyak keluarga.
Di tengah krisis ekonomi yang semakin parah akibat perang, warga pun terpaksa mencari alternatif. Salah satunya adalah Abdullah Jamal, seorang pembuat roti, yang kini menggunakan kayu bakar untuk menyalakan oven kecil demi memproduksi roti bagi para pengungsi di sekitarnya.
“Warga Gaza terpaksa mencari cara lain untuk memasak dan membuat roti,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan gas masih sangat dibatasi, meski dalam beberapa bulan terakhir ada sedikit pasokan yang masuk. Warga tetap berhemat karena khawatir distribusi kembali terhenti.
Meski Israel mengizinkan sebagian pengiriman bahan bakar dan gas sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober, sumber Palestina menyebut hanya sekitar 14,7 persen dari total pasokan yang dijanjikan dalam protokol kemanusiaan yang benar-benar masuk ke Gaza.
Abdullah menjelaskan bahwa jumlah gas yang masuk sangat terbatas dan didistribusikan ke rumah tangga dengan jatah sekitar 8 kilogram per keluarga setiap dua hingga tiga bulan.
Di sisi lain, harga bahan bakar juga sangat tidak stabil. Pada puncak konflik, harga solar sempat mencapai 90 shekel (sekitar 29 dolar AS) per liter akibat pembatasan impor. Saat ini, harga masih sekitar tiga kali lipat dibandingkan sebelum perang, yang berada di kisaran 7 shekel (sekitar 3,30 dolar AS) per liter. Hal ini turut mendorong kenaikan biaya transportasi.
Perang yang telah menewaskan lebih dari 75.000 warga Palestina itu memicu krisis multidimensi bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza. Sebagian besar rumah kini tidak memiliki akses listrik dan gas yang stabil, sementara biaya energi alternatif pun tidak terjangkau.
Baca juga: 7 Daftar Perusahaan yang Terlibat Genosida Israel di Gaza!
Data pemerintah Gaza menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, hanya 1.190 truk bahan bakar yang diizinkan masuk dari total 8.050 truk yang seharusnya dikirim. Kesepakatan awal menyebutkan 50 truk bahan bakar per hari, namun realisasinya jauh di bawah target.
Direktur Jenderal Otoritas Perminyakan Gaza, Iyad al-Shorbaji, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut membutuhkan sekitar 350 hingga 400 truk gas per bulan, serta 15 juta liter solar dan 2,5 juta liter bensin.
Namun, pasokan yang masuk saat ini hanya sekitar 100 truk gas per bulan. Sebagian besar distribusi bahan bakar juga diprioritaskan untuk layanan kesehatan dan fasilitas publik melalui organisasi internasional, dengan sisa kecil untuk kebutuhan komersial.
Al-Shorbaji memperingatkan bahwa kekurangan ini telah mengganggu sektor ekonomi dan layanan publik. Beberapa fasilitas bahkan terpaksa membeli gas yang awalnya dialokasikan untuk rumah tangga demi tetap beroperasi.
Baca juga: Indonesia Kirim 10 Ribu Ton Beras untuk Palestina, Perintah Langsung dari Presiden Prabowo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera