Ilustrasi perkebunan sawit. (Freepik)
INDOZONE.ID - Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan paling vital di dunia yang tumbuh subur di wilayah tropis, terutama Indonesia.
Tanaman dengan nama ilmiah Elaeis guineensis ini dikenal karena efisiensinya yang luar biasa dalam menghasilkan minyak nabati sebagai bahan baku berbagai produk kebutuhan hidup, mulai dari pangan hingga bahan bakar terbarukan.
Mengingat peran strategis tanaman ini sebagai tulang punggung ekonomi bagi jutaan orang, pengelolaannya kini semakin diarahkan pada aspek keberlanjutan dan kemanusiaan.
Baca juga: Wamendag Roro Serap Masukan Pelaku Usaha Sawit Usai Konferensi Minyak Nabati Pakistan
Sejalan dengan upaya global dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, industri kelapa sawit memiliki komitmen kuat dalam mewujudkan prinsip kesetaraan bagi perempuan pekerja, termasuk dalam hal keadilan akses, kesempatan kerja, serta pemenuhan hak-hak tenaga kerja tanpa diskriminasi.
Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Sumarjono Saragih, menjelaskan bahwa industri sawit terus berupaya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia (SDM), termasuk perempuan pekerja.
Ilustrasi pekerja di industri sawit.
"Bahwa kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan itu memang harus setara, tetapi kita juga harus mempertimbangkan kekhasan perempuan dari sisi kecocokan pekerjaan hingga kekuatan fisik perempuan. Jadi, kesetaraan itu bukan berarti 50:50," katanya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, prinsip kesetaraan di industri sawit diwujudkan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kekhasan perempuan.
Menurut Sumarjono, keterlibatan perempuan dalam industri kelapa sawit umumnya terkonsentrasi pada sektor administrasi dan perawatan yang memiliki intensitas fisik lebih rendah.
Namun, peran mereka juga merambah ke sektor hulu sebagai tenaga pemanen serta pengumpul brondolan.
Sementara itu, di lini hilir, kaum perempuan aktif mengambil peran strategis sebagai pengelola lahan plasma maupun anggota koperasi.
Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menyebutkan bahwa 86% tenaga kerja dalam proses produksi kelapa sawit didominasi oleh perempuan khususnya pada tahapan awal dalam rantai pasok.
Mereka banyak terlibat dalam aktivitas seperti pemupukan, penyiangan gulma, penyemprotan pestisida, hingga pengumpulan hasil panen kelapa sawit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan