INDOZONE.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah karena Donald Trump kembali mengobarkan ketegangan perdagangan global. Pada Jumat (11/7/2025), Presiden Trump melontarkan ancaman baru berupa kenaikan tarif impor yang ditujukan pada sejumlah negara mitra dagang, termasuk Kanada.
Langkah ini langsung mengguncang sentimen pasar dan menyebabkan pelemahan pasar modal AS serta bursa Eropa.
Trump mengirim lebih dari 20 surat kepada berbagai pemerintah, memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai hingga 1 Agustus, maka Amerika Serikat akan mengenakan tarif baru.
Baca juga: Trump Patok Tarif 32 Persen untuk Indonesia, Begini Kata Menkeu Sri Mulyani
Salah satunya adalah tarif 35 persen terhadap Kanada. Selain itu, Trump juga mengancam tarif tambahan hingga 20 persen bagi negara lain, naik dari sebelumnya 10 persen.
Produk farmasi bahkan terancam tarif hingga 200 persen, dan tembaga dikenai bea masuk sebesar 50 persen.
Trump ancam naikkan tarif impor ini mengingatkan kembali pasar akan gaya negosiasi agresif yang pernah membuat gejolak besar di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, meski reaksi pasar tidak seheboh sebelumnya, kekhawatiran tetap terasa.
Tiga indeks utama di Wall Street termasuk S&P 500 dan Nasdaq terlihat terkoreksi dari posisi tertingginya, meskipun penurunan tersebut tergolong moderat.
Baca juga: Saham Asia Naik Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran-Israel
Para analis melihat bahwa banyak investor masih mengambil pendekatan "tunggu dan lihat", menanti apakah ancaman ini benar-benar akan diterapkan atau hanya menjadi bagian dari strategi negosiasi.
Adam Sarhan dari 50 Park Investments mengatakan bahwa investor masih ragu apakah tarif besar-besaran ini akan benar-benar diberlakukan.
Sementara Oxford Economics menyebut langkah Trump ini lebih mirip “pertunjukan tarif” daripada kebijakan ekonomi riil, meski tetap menciptakan ketidakpastian di pasar.
Kekhawatiran perang dagang kembali mencuat, terutama di Eropa dan Asia. Bursa Paris turun 0,9 persen, Frankfurt 0,8 persen, sementara di Asia, pasar mengalami pergerakan campuran. Bursa Hong Kong menguat, Tokyo melemah, dan Shanghai stagnan.
Analis Patrick O’Hare dari Briefing.com menjelaskan bahwa pasar belum bereaksi lebih dalam karena sebagian besar masih menilai tindakan ini sebagai bagian dari taktik negosiasi. Namun, jika benar-benar diterapkan, tarif-tarif baru ini bisa memicu putaran baru dalam konflik dagang global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New York Post