INDOZONE.ID - Dalam dinamika pasar modal untuk properti, tidak semua lonjakan harga saham dipandang sebagai fenomena sesaat. Beberapa justru menandai perubahan fase yang lebih fundamental.
Perubahan harga saham yang positif dialami oleh PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA), yang belakangan bergerak agresif. DADA salah satu pengembang properti yang sedang hype yaitu hunian modern Apple 3 Condovilla yang berlokasi di sekitaran Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Di tengah mulai pulihnya sektor properti dan meningkatnya selektivitas investor, saham DADA berpotensi naik. Salah satu contoh transformasi emiten kecil yang berhasil menarik kembali perhatian pasar melalui perbaikan kinerja dan prospek yang lebih menjanjikan.
Di kalangan analis, saham yang mengalami kebangkitan seperti ini kerap disebut memasuki fase awakening, yakni transisi dari saham yang sebelumnya kurang diperhatikan menjadi saham dengan growth story yang mulai diperhitungkan.
Baca juga: Menjangkau yang Tak Terjangkau: Pelayanan Sepenuh Hati PNM untuk Kelompok Subsisten
Lonjakan harga bisa mencapai 35% dalam waktu relatif singkat. Namun ini dinilai bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan pembuka dari potensi fase baru di awal 2026.
Menurut Direktur dan CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk Bayu Setiawan, bagi investor jangka menengah hingga panjang, pergerakan semacam ini sering dibaca sebagai sinyal awal dari proses re-rating valuasi.
“Pasar mulai menyesuaikan harga saham dengan prospek dan fundamental perusahaan yang sebelumnya belum sepenuhnya tercermin,” papar Bayu kepada wartawan di Jakarta.
Lonjakan saham yang tajam juga kerap diinterpretasikan sebagai indikasi masuknya smart money. Begitu juga dengan respons atas perbaikan kinerja yang datang lebih dulu dibanding reaksi harga.
Baca juga: 7 Tanda Harga Emas Akan Naik, Sinyal Penting Buat Kamu yang Lagi Nimbang Investasi
Bayu menegaskan, pergerakan saham DADA kali ini dinilai memiliki pijakan yang lebih kuat, berbeda dengan saham-saham yang naik karena rumor atau sentiment sesaat.
Lonjakan Saham yang Signifikan
Bayu membeberkan, lonjakan sekitar 35% hanya dalam hitungan menit dari level Rp50 bukanlah peristiwa yang lazim terjadi tanpa sebab. Pasar seakan mengirimkan pesan bahwa tengah terjadi perubahan signifikan.
Lonjakan tersebut disertai dengan data kenaikan laba yang melonjak ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III, memperkuat keyakinan bahwa penguatan saham tidak berdiri di ruang hampa.
Dengan perkembangan tersebut, mulai dipersepsikan bukan lagi sekadar saham berharga rendah, melainkan emiten dengan potensi cerita pertumbuhan baru. Fokus investor pun perlahan bergeser.
“Pertanyaan yang muncul kini bukan lagi “mengapa saham ini naik?”, melainkan “sejauh mana proses revaluasi ini akan berlanjut,” papar Bayu.
Terjadinya lonjakan saham di awal 2026 dapat menjadi sinyal awal pembentukan tren positif. Meskipun investor tetap perlu mencermati faktor risiko seperti kondisi makroekonomi global, daya beli masyarakat, serta realisasi kinerja keuangan perseroan pada kuartal-kuartal mendatang.
Dengan volatilitas yang masih berpotensi terjadi, pendekatan selektif dan berbasis fundamental tetap menjadi kunci.
“Ke depan, kondisi saham ini berpeluang melanjutkan penguatan apabila perseroan mampu menjaga kinerja penjualan, merealisasikan proyek sesuai rencana, serta menghadirkan katalis korporasi yang memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,” tutup Bayu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan