Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 18 APRIL 2026 • 14:20 WIB

Impor Energi dari Rusia Didukung, Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan

Impor Energi dari Rusia Didukung, Dinilai Bisa Kurangi KetergantunganIlustrasi impor energi. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

INDOZONE.ID - Langkah Pemerintah Indonesia dalam mempertahankan stok energi Tanah Air salah satunya dengan cara kerja sama dengan Rusia mendapat dukungan. Dinilai, hal ini juga mampu mengurangi konsentrasi Indonesia dalam hal impor.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro. 

Dia mengatakan, tambahan pasokan dari Rusia merupakan langkah taktis yang masuk akal dalam konteks diversifikasi energi nasional.

"Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor," kata Ridho seperti dilansir Antara, Sabtu (18/6/2026).

Baca juga: Kemendag Perketat Tata Niaga Gula dan Impor Etanol, Ini Dampaknya untuk Pasokan dan Harga

Dia juga kemudian menyoroti rencana pembangunan storage yang menjadi bagian dari kerja sama antar dua negara itu. 

Menurutnya, penguatan infrastruktur penyimpanan justru merupakan langkah yang lebih fundamental dibanding sekadar menambah volume pasokan.

"Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat," ucap Ridho.

Meski mengapresiasi langkah pemerintah, Ridho mengingatkan jika keberhasilan kebijakan ini tidak boleh berhenti pada capaian diplomatik. 

Dia menekankan pentingnya indikator teknis dalam implementasi mulai dari harga pasokan yang kompetitif, kesesuaian jenis crude dengan kilang domestik hingga efektivitas LPG dalam menekan impor.

“Keberhasilan kebijakan ini nanti tidak diukur dari headline diplomatiknya, tetapi dari hal-hal yang sangat konkret, apakah harga pasokan lebih kompetitif, apakah crude-nya cocok untuk kilang, apakah LPG benar-benar mengurangi tekanan impor, apakah storage berada di lokasi logistik yang tepat, dan apakah stok itu benar-benar bisa diakses cepat saat krisis,” tegasnya.

Diingatkannya jika tambahan pasokan dari luar negeri tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar jika tidak diiringi dengan penguatan sektor energi domestik.

"Ini sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi transisi dan ketahanan energi, bukan sebagai tujuan akhir. Indonesia tetap perlu paralel memperkuat lifting domestik, upgrading kilang, efisiensi konsumsi BBM, substitusi LPG, bioenergi, dan percepatan elektrifikasi. Tanpa itu, tambahan pasokan hanya akan memperbaiki gejala, bukan akar kerentanannya,” katanya.

Baca juga: Bahlil Buka Peluang Impor Minyak dari Rusia, RI Diversifikasi Sumber Energi

Senada dengan Ridho, dosen dan peneliti kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam hal ini. 

Dia menilai kerja sama ini tidak hanya berdimensi teknokratis, tetapi juga merupakan bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang mempengaruhi arah kebijakan domestik.

“Dalam perspektif kebijakan, kerjasama pasokan energi dengan Rusia perlu dibaca bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang membentuk pilihan kebijakan domestik,” ujarnya.

Untuk diketahui, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dibawah Bahlil Lahadalia tengah membuka peluang dengan Rusia dalam hal kerja sama dibidang energi.

Kerja sama ini dicapai melalui pertemuan antara Bahlil dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilvev.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Impor Energi dari Rusia Didukung, Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!