Ilustrasi Strategi DCA dalam Saham. (Freepik/sodawhiskey)
INDOZONE.ID - Di tengah ramainya konten investasi di media sosial, banyak orang tergoda dengan janji cuan cepat. Beli hari ini, besok profit.
Kedengarannya seru, tapi realitanya nggak sesederhana itu. Pasar saham punya ritmenya sendiri, naik-turun nggak bisa ditebak dengan mudah, apalagi buat pemula.
Di sinilah strategi Dollar Cost Averaging atau DCA mulai banyak dilirik karena dianggap lebih masuk akal, realistis, dan ramah buat semua kalangan.
Melalui penjelasan di YouTube @Renaldo Ndona, strategi DCA dibahas secara tuntas. Bukan strategi instan kaya, tapi metode pelan-pelan yang fokus ke disiplin dan konsistensi.
Cocok banget buat anak muda yang baru mulai investasi dan masih belajar memahami pasar.
Baca juga: Mengenal Fitur IEP dan IEV dalam Investasi Saham, Senjata Rahasia yang Sering Diremehkan Trader
Banyak investor pemula masuk ke pasar saham dengan mindset ingin cepat untung. Mereka sibuk mencari “resep rahasia” atau indikator sakti yang katanya bisa bikin kaya dalam waktu singkat.
Sayangnya, sebagian besar justru berakhir nyangkut di harga tinggi karena salah timing.
Membeli di harga terendah dan menjual di harga tertinggi terdengar ideal, tapi praktiknya butuh analisis mendalam, jam terbang tinggi, dan mental yang kuat.
Bahkan investor berpengalaman pun belum tentu bisa konsisten menebak arah pasar dengan tepat. Karena itu, strategi yang lebih realistis dan minim drama jadi pilihan yang lebih aman.
Dollar Cost Averaging atau DCA adalah strategi investasi dengan cara mengalokasikan dana dalam jumlah yang sama secara rutin di periode tertentu, misalnya setiap bulan.
Dalam strategi ini, investor tidak perlu pusing memikirkan kondisi pasar, mau lagi naik atau turun, investasi tetap jalan.
Intinya sederhana yaitu beli aset secara berkala dengan nominal yang sama, tanpa mikir timing. Strategi ini bisa diterapkan di berbagai instrumen, mulai dari saham, reksadana, sampai kripto.
Fokus utamanya bukan cari harga paling murah, tapi membangun kebiasaan investasi yang konsisten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube