INDOZONE.ID - Ketika daya beli masyarakat menurun, dampaknya bisa terasa ke berbagai sektor, mulai dari bisnis, lapangan kerja, hingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Isu ini naik seiring dengan melemahnya rupiah, apalagi ditambah per hari ini, Rabu (10/6/2026), terdapat kenaikan harga bahan bakar non-subsidi di Indonesia.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pengamat Nilai Langkah Realistis Jaga Fiskal
Nah, ada beberapa faktor yang membuat daya beli masyarakat menurun. Yuk, simak penjelasannya!
Faktor Utama Daya Beli Masyarakat Menurun
1. Pendapatan Tidak Bertambah Secepat Kenaikan Harga
Salah satu penyebab utama daya beli menurun adalah pendapatan yang tidak meningkat secara signifikan, sementara harga barang dan jasa terus naik.
Meski gaji atau penghasilan nominal bertambah, daya beli belum tentu ikut naik jika kenaikan tersebut sebanding atau bahkan lebih rendah dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Kasus Gagal Bayar Pinjol Meningkat, OJK Tegaskan Verifikasi Peminjam Jadi Tanggung Jawab Platform
2. Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Harga kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar, hingga biaya transportasi yang meningkat membuat masyarakat harus mengatur ulang pengeluaran mereka.
Banyak orang akhirnya memilih mengurangi belanja yang sifatnya tidak terlalu penting demi memenuhi kebutuhan utama. Kondisi ini membuat konsumsi masyarakat secara keseluruhan ikut menurun.
Baca juga: Apa yang Tidak Bisa Digantikan oleh AI? Memahami Kebutuhan Dasar Manusia
3. Gelombang PHK dan Pengangguran
Ketika perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), jumlah masyarakat yang kehilangan sumber pendapatan tentu bertambah. Situasi ini membuat kemampuan belanja mereka ikut berkurang.
4. Tabungan Terpakai untuk Kebutuhan Sehari-hari
Dalam kondisi ekonomi yang menantang, tidak sedikit masyarakat yang harus menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian.
Jika sebelumnya sebagian penghasilan bisa disisihkan untuk menabung, kini dana tersebut justru digunakan untuk membayar kebutuhan pokok. Akibatnya, kemampuan keuangan jangka panjang ikut menurun.
5. Lapangan Kerja Masih Terbatas
Ketika peluang kerja terbatas, angka pengangguran berpotensi meningkat. Tanpa penghasilan yang cukup, masyarakat tentu akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan cenderung menunda berbagai kebutuhan.
Baca juga: Pemerintah Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen pada 2027, Ini Strategi yang Disiapkan
6. Beban Pajak yang Bertambah
Pajak memiliki pengaruh langsung terhadap jumlah uang yang bisa digunakan masyarakat untuk berbelanja.
Jika beban pajak meningkat, pendapatan yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari menjadi lebih sedikit.
Dampaknya, konsumsi rumah tangga dapat ikut menurun karena masyarakat harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk kewajiban pajak.
7. Akses Kredit dan Beban Utang
Ketika akses kredit semakin sulit atau cicilan dan utang yang dimiliki sudah terlalu besar, kemampuan untuk berbelanja kebutuhan lain menjadi berkurang.
Sebaliknya, akses kredit yang sehat dapat membantu meningkatkan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Baca juga: Menaker Paparkan Strategi Siapkan Tenaga Kerja Masa Depan di Tengah Perkembangan AI
Kenapa Kondisi Ini Perlu Diperhatikan?
Daya beli masyarakat memiliki peran penting dalam perekonomian karena konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini bisa memengaruhi aktivitas bisnis, produksi industri, hingga penciptaan lapangan kerja baru.
Baca juga: Peran Uang dan Lembaga Keuangan dalam Sistem Perekonomian Masyarakat
Peningkatan pendapatan, stabilitas harga kebutuhan pokok, ketersediaan lapangan kerja, serta akses keuangan yang sehat menjadi faktor penting untuk membantu menjaga daya beli masyarakat tetap kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Perdagangan.palembang.go.id