Ilustrasi Planned Obsolescence. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa kalau HP yang baru dipakai dua atau tiga tahun tiba-tiba performanya jadi lemot parah atau baterainya mendadak boros banget.
Padahal awalnya lancar jaya buat main game atau scrolling medsos seharian. Di saat yang sama, brand favorit kamu merilis seri terbaru dengan desain yang lebih kece dan fitur yang sepertinya wajib banget punya.
Akhirnya, banyak dari kita yang rela antre atau menabung mati-matian demi mengganti perangkat lama dengan yang paling gres.
Tapi tunggu dulu, apakah ini murni karena kemajuan teknologi yang super cepat, atau jangan-jangan ada sebuah rahasia besar di baliknya.
Fenomena ini bukan cuma soal tren, tapi soal sebuah strategi yang bikin kita terus-menerus haus akan produk baru.
Yuk kita bongkar lebih dalam tentang sebuah konsep yang mungkin belum banyak orang tahu, tapi sangat memengaruhi dompet dan gaya hidup kita.
Dilansir dari YouTube @Tekhno Skrip, yuk kita kupas tuntas rahasia di balik dunia industri ini!
Baca juga: Jangan Sampai Tertukar, Begini Cara Bedakan Profit Kotor dan Bersih Biar Bisnis Nggak Boncos!
Mungkin istilah ini terdengar teknis banget di telinga kamu, tapi sebenarnya artinya cukup simpel.
Planned obsolescence adalah sebuah strategi bisnis di mana produk-produk sengaja dirancang oleh produsen agar tidak bertahan lama atau supaya cepat terasa jadul.
Bayangkan sebuah barang yang sebenarnya bisa dipakai sepuluh tahun, tapi dibuat sedemikian rupa supaya dalam tiga tahun kamu sudah merasa harus beli yang baru.
Tujuannya tentu saja untuk keuntungan perusahaan. Semakin cepat barang kamu rusak atau terasa kuno, semakin cepat pula kamu kembali ke toko untuk belanja lagi.
Strategi ini memang sangat efektif buat muterin roda ekonomi perusahaan, tapi di sisi lain, ini jadi tantangan besar buat kita sebagai konsumen dan juga buat bumi kita tercinta.
Bicara soal teknologi, kita pasti nggak asing dengan brand Apple. Perusahaan ini dikenal dengan produknya yang ikonik dan prestisius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: