INDOZONE.ID - Jika mendengar pasar modal, sebagian orang mungkin langsung membayangkan grafik saham yang naik turun atau istilah investasi yang terdengar rumit.
Padahal, pasar modal memiliki peran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena ikut mendukung pertumbuhan ekonomi dan perkembangan banyak perusahaan di Indonesia.
Baca juga: Prabowo Dorong Transformasi Ekonomi Pancasila, Tekankan Pemerataan Kesejahteraan Rakyat
Setiap tanggal 3 Juni, Indonesia memperingati Hari Pasar Modal Indonesia. Momen ini menjadi pengingat bahwa pasar modal bukan hanya investasi, tetapi juga bagian penting dari perjalanan ekonomi bangsa dari masa ke masa.
Apa Itu Pasar Modal?
Pasar modal adalah tempat perusahaan mencari pendanaan dengan menawarkan saham atau instrumen investasi lainnya.
Di sisi lain, masyarakat bisa membeli instrumen tersebut sebagai bentuk investasi. Jadi, bukan hanya perusahaan yang mendapat manfaat, investor juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan aset yang dimilikinya.
Baca juga: Rencana Aktivasi Bandara Husein Dinilai Hadirkan Dilema bagi Bandung dan Kertajati
Selain saham, ada juga instrumen lain yang diperdagangkan di pasar modal seperti obligasi dan reksa dana.
Berbeda dengan pasar tradisional yang menjual barang fisik, pasar modal memperdagangkan surat berharga yang mewakili kepemilikan atau investasi pada suatu perusahaan.
Sejarah Pasar Modal Indonesia
Berdasarkan catatan sejarah di Museum Bank Indonesia, aktivitas perdagangan saham di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial.
Dalam catatan Vereeniging Voor den Effectenhandel dalam publikasi Effectengids, menyebut transaksi saham sudah berlangsung sejak tahun 1880. Saat itu, beberapa perusahaan mulai menawarkan saham kepada masyarakat.
Baca juga: Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Jepara, Truk Bawa Belasan QR Code dan Pelat Palsu
Kemudian pada 14 Desember 1912, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Bursa Efek di Batavia atau yang sekarang dikenal sebagai Jakarta.
Bursa tersebut menjadi pusat perdagangan efek sekaligus sumber pendanaan bagi berbagai sektor usaha pada masa itu.
Kenapa Diperingati Tanggal 3 Juni?
Meski sempat berkembang pada era kolonial, aktivitas pasar modal Indonesia pernah berhenti cukup lama akibat berbagai perubahan politik dan kondisi negara saat itu.
Pasar modal baru kembali diaktifkan pada 3 Juni 1977 oleh pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.
Baca juga: Resmi! PPh Final UMKM 0,5 Persen Kini Berlaku Tanpa Batas Waktu
Saat itu, saham PT Semen Cibinong menjadi saham pertama yang tercatat setelah pasar modal kembali dibuka.
Karena itulah tanggal 3 Juni kemudian diperingati sebagai Hari Pasar Modal Indonesia setiap tahunnya.
Punya Peran Besar untuk Ekonomi
Kehadiran pasar modal bisa membantu perusahaan mendapatkan dana untuk mengembangkan bisnis, membuka lapangan kerja, hingga menciptakan inovasi baru.
Dana yang diinvestasikan masyarakat juga akan digunakan perusahaan untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya.
Semakin banyak perusahaan yang berkembang, semakin besar pula dampaknya terhadap perekonomian nasional.
IHSG Jadi Salah Satu Tolak Ukur
Banyak orang pasti pernah mendengar istilah IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan, karena IHSG sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat kondisi pasar saham di Indonesia.
Ketika IHSG bergerak naik, biasanya menunjukkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi. Sebaliknya, jika mengalami penurunan, bisa jadi ada faktor ekonomi atau sentimen pasar yang sedang memengaruhi pergerakan saham.
Investasi Saham Bisa Dimulai Siapa Saja
Berkat perkembangan teknologi, masyarakat bisa mulai berinvestasi dengan modal yang lebih terjangkau melalui berbagai aplikasi investasi.
Bukan karena besar atau kecilnya modal, melainkan pemahaman tentang investasi, kemampuan mengelola keuangan, dan konsistensi dalam berinvestasi.
Baca juga: Gaji Camat dan Tunjangan Terbaru, Segini yang Diterima Setiap Bulannya
Karena itu, Hari Pasar Modal Indonesia juga menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Semakin banyak orang yang memahami investasi dengan baik, semakin besar pula peluang untuk membangun kondisi keuangan yang lebih sehat di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Universitas Dian Nusantara