INDOZONE.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pendidikan vokasi lewat kolaborasi Indonesia–China untuk menyiapkan talenta digital industri. Kerja sama ini menyasar kurikulum, pelatihan praktik, hingga pertukaran pengajar dan mahasiswa.
Fokusnya pada digitalisasi industri dan kecerdasan buatan agar SDM Indonesia makin siap bersaing global.
Program ini menjadi bagian dari Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), sekaligus peta jalan industrialisasi Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, SBIN bukan sekadar dokumen kebijakan, tetapi panduan utama pembangunan industri berkelanjutan.
“Implementasi SBIN perlu diintegrasikan secara menyeluruh dalam sistem pendidikan vokasi nasional guna mencetak SDM industri yang inovatif, adaptif, dan produktif,” ujarnya dalam pernyataannya yang diterima Indozone dikutip Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Kemenperin Percepat Sertifikasi Halal untuk Industri Kecil dan Menengah
Pendidikan Vokasi Jadi Kunci
Menurut Kemenperin, pendidikan vokasi harus menadi prioritas nasional.
Kenapa menjadi kunci, karena industri butuh tenaga kerja yang siap pakai, bukan sekadar lulusan berijazah.
“Pendidikan vokasi harus menjadi prioritas nasional agar lulusannya memiliki kompetensi yang benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun di pasar global,” kata Agus.
Baca juga: Indonesia dan Inggris Teken Economic Growth Partnership, Perkuat Kerja Sama Ekonomi Strategis
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenperin menggandeng mitra internasional.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) menjalin kerja sama dengan Irootech Technology Co. Ltd. dan Guangzhou Electromechanical Technician College dari China.
Irootech dikenal sebagai pengembang sistem operasi Industrial Internet of Things (IIoT) melalui platform ROOTCLOUD. Sementara Guangzhou Electromechanical Technician College fokus pada pendidikan vokasi bidang elektromekanika, otomasi, dan robotika.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan, kolaborasi ini menyasar pengembangan talenta industri di bidang digitalisasi dan kecerdasan buatan.
“Tujuannya meningkatkan daya saing SDM industri, mempercepat transformasi digital sektor industri, serta mendukung iklim investasi di Indonesia melalui ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan siap industri,” jelasnya.
Bangun Masa Depan SDM
Kerja sama Indonesia–China ini juga tak berhenti di sektor perdagangan dan infrastruktur.
Bidangnya kini meluas ke pendidikan, sains, teknologi, dan inovasi digital.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menilai, kolaborasi ini punya makna jangka panjang.
“Kerja sama ini bukan sekadar tentang perjanjian institusional, tetapi membangun SDM, memperkuat industri, dan membentuk masa depan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemitraan yang berkelanjutan akan membuat kedua negara tumbuh bersama di era industri yang makin terkoneksi.
Kurikulum hingga Pertukaran Mahasiswa
Dari sisi industri, Vice President Irootech Technology Co., Ltd., Ye Fai, berharap kerja sama ini bisa berkembang secara konkret dan bertahap.
Bidang kolaborasinya meliputi pengembangan standar dan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik, hingga pertukaran guru dan mahasiswa.
“Seluruh inisiatif ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan talenta di bidang digitalisasi industri dan kecerdasan buatan,” katanya.
Komitmen serupa juga disampaikan Guangzhou Electromechanical Technician College, yang menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, industri, dan institusi pendidikan.
“Kami berkomitmen penuh untuk pengembangan program, perancangan kurikulum, pelatihan tenaga pengajar, serta pertukaran kompetensi,” pungkas perwakilan kampus tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Kemenperin