Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 22 JANUARI 2026 • 12:10 WIB

Definisi Hilirisasi yang Sering Disalahpahami: Bukan Sekadar Smelter, Tapi Soal Nilai Tambah Nyata

Definisi Hilirisasi yang Sering Disalahpahami: Bukan Sekadar Smelter, Tapi Soal Nilai Tambah NyataIlustrasi Definisi Hilirisasi. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Istilah hilirisasi belakangan ini makin sering terdengar di ruang publik. Dari pidato pejabat sampai diskusi di media sosial, kata ini seolah jadi solusi atas berbagai persoalan ekonomi nasional. 

Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar paham apa itu hilirisasi? Atau jangan-jangan, selama ini kita cuma ikut ramai tanpa tahu esensinya?

Lewat penjelasan di kanal YouTube/Bossman Mardigu, konsep hilirisasi dibedah dengan bahasa yang lugas, dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bukan cuma soal tambang atau pabrik besar, tapi soal bagaimana sebuah bangsa mengelola kekayaannya, agar nilai tambah benar-benar dirasakan di dalam negeri.

Baca juga: 9 Tanaman yang Bisa Jadi Penyelamat Finansial Saat Krisis Pangan, Wajib Dicoba di Rumah!

Apa Arti Hilirisasi Sebenarnya?

Secara sederhana, hilirisasi adalah proses pengolahan material dari bahan mentah di hulu, menjadi barang setengah jadi, lalu berlanjut hingga menjadi barang jadi di hilir.

Inti dari proses ini bukan cuma produksi, tapi menciptakan value added atau nilai tambah.

Kalau suatu komoditas hanya dijual dalam bentuk mentah, keuntungan yang didapat biasanya kecil dan dinikmati oleh sedikit pihak.

Tapi ketika komoditas itu diolah, dikemas, diberi merek, dan dipasarkan sebagai produk akhir, nilainya bisa melonjak berkali-kali lipat.

Di situlah letak pentingnya hilirisasi yang sering luput dari pembahasan.

Contoh Sederhana: Perjalanan Panjang Biji Kopi

Bossman Mardigu memberi ilustrasi yang sangat membumi lewat kopi. Ketika masih berupa biji kopi mentah, harga pasarnya sekitar Rp100.000 per kilogram.

Di level ini, petani biasanya hanya menikmati keuntungan sekitar 10 sampai 15 persen. Ini adalah kondisi ketika kita bermain di sektor hulu.

Begitu biji kopi itu disangrai, digiling, lalu dikemas menjadi kopi bubuk dan diberi merek dagang, harganya langsung naik.

Satu kilogram kopi bubuk bermerek bisa dijual sekitar Rp150.000. Artinya, hanya dengan proses lanjutan dan branding, nilainya sudah naik sekitar 50 persen.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Definisi Hilirisasi yang Sering Disalahpahami: Bukan Sekadar Smelter, Tapi Soal Nilai Tambah Nyata

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!