Ilustrasi mengukur likuiditas perusahaan. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Kalau bicara soal keuangan bisnis, ada satu istilah yang nggak boleh dilewat, yaitu likuiditas.
Kedengarannya teknis, tapi sebenarnya ini soal seberapa siap perusahaan pegang uang yang aman untuk bertahan di situasi mendadak.
Dalam dunia usaha, kondisi nggak selalu mulus. Bisa saja pemasukan turun, ada tagihan jatuh tempo, atau muncul peluang investasi yang butuh dana cepat. Di sinilah likuiditas jadi penentu, perusahaan aman atau malah nggak sanggup mengatasinya.
Baca juga: Mengenal Scalping Saham: Cara Kerja dan Legalitasnya di Indonesia
Likuiditas adalah kemampuan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai dengan cepat tanpa mengurangi nilainya secara signifikan. Semakin mudah aset itu dicairkan, semakin tinggi tingkat likuiditasnya.
Contoh paling simpel tentu saja uang tunai. Sementara properti atau aset fisik lain biasanya butuh waktu lebih lama untuk dijual, jadi tingkat likuiditasnya lebih rendah.
Bagi perusahaan, likuiditas yang sehat artinya mereka sanggup memenuhi kewajiban jangka pendek seperti utang usaha, pajak, dividen, dan kebutuhan operasional lainnya tanpa harus panik cari dana dadakan.
Kalau likuiditas seret, risikonya bisa ke mana-mana, mulai dari gangguan operasional sampai ancaman bangkrut. Makanya, urusan arus kas dan pembayaran kewajiban, termasuk pajak, nggak bisa dianggap sepele.
Dalam praktiknya, likuiditas dibagi jadi beberapa jenis. Masing-masing menunjukkan seberapa kuat kondisi keuangan perusahaan dari sisi yang berbeda.
Likuiditas lancar menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset yang paling cepat dicairkan, seperti kas, setara kas, dan piutang. Biasanya ini jadi indikator awal apakah kondisi keuangan sedang aman atau perlu waspada.
Jenis ini cakupannya lebih luas, termasuk persediaan dan aset tetap. Artinya, ini menggambarkan kemampuan perusahaan menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari tanpa tersendat karena masalah dana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cimbniaga