Ilustrasi seorang scalper. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Di dunia pasar modal, scalping dikenal sebagai strategi jual beli saham dalam waktu sangat singkat, bahkan bisa hitungan menit. Tujuannya bukan cari untung besar, tapi mengambil margin kecil berkali-kali dalam sehari.
Pelaku strategi ini disebut scalper, mereka biasanya memanfaatkan selisih tipis antara harga bid dan offer atau pergerakan harga kecil yang terjadi cepat.
Kunci menjadi scalper adalah kecepatan dan volume transaksi, bukan menunggu harga naik dalam jangka panjang seperti investor biasa atau pelaku swing trading.
Baca juga: Jelang Pengumuman WTE Danantara, Thomas William Sebut DAAZ Muncul dalam Rumor Pemenang
Scalping bukan strategi asal klik beli lalu jual. Butuh fokus tinggi, disiplin, dan pemahaman teknikal yang matang.
1. Pilih Saham yang Likuid dan Aktif
Tidak semua saham cocok untuk scalping. Biasanya, scalper mencari saham dengan:
Likuiditas tinggi penting agar saham mudah masuk dan keluar tanpa hambatan, sementara volatilitas memberi peluang pergerakan harga yang bisa dimanfaatkan.
2. Andalkan Analisis Teknikal
Karena durasinya singkat, scalping tidak fokus pada fundamental perusahaan karena yang dilihat adalah pergerakan grafik dan indikator teknikal.
Beberapa indikator yang sering dipakai antara lain:
Semua indikator ini membantu trader menentukan timing yang presisi.
3. Tentukan Entry, Exit, dan Stop Loss dengan Jelas
Dalam scalping, tidak ada ruang untuk ragu. Trader harus sudah tahu di harga berapa akan masuk, di mana ambil keuntungan, dan di titik mana harus keluar jika harga berbalik arah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Maybank