INDOZONE.ID - Investasi crypto dikenal memiliki potensi keuntungan besar lebih cepat.
Tapi banyak investor yang sering bingung menentukan waktu terbaik untuk membeli crypto.
Tak perlu khawatir, karena banyak tips dan trik yang bisa kamu ikuti ketika ingin membeli aset.
Salah satunya menggunakan strategi dollar-cost averaging (DCA) belakangan ini sering dimanfaatkan.
Strategi ini digadang-gadang efektif untuk berinvestasi crypto secara konsisten.
Kamu gak perlu pusing dan bingung, tapi cukup menyisihkan dana dengan jumlah tetap secara rutin.
Baca juga: KSEI Itu Apa Sih? Ini Fungsi dan Layanan Buat Investor Biar Gak Rugi!
Apa Itu DCA (Dollar Cost Averaging)?
Dikutip dari Pintu Academy, Dollar-Cost Averaging (DCA) merupakan sebuah strategi investasi yang bisa mengurangi ketidakpastian soal kapan waktu terbaik untuk masuk pasar.
Biasanya jadwal investasi tetap yang sudah ditentukan dan kamu tinggal mengikutinya.
Bahkan strategi ini bisa mendorong seseorang untuk lebih disiplin berinvestasi.
Caranya juga mudah, karena kamu hanya perlu mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli aset secara rutin, seperti mingguan atau bulanan, tanpa peduli harga aset.
Baca juga: Apa Itu Rating Moody's? Ini Fungsi dan Pengaruhnya bagi Perekonomian Indonesia
Manfaat DCA Crypto untuk Investasi Jangka Panjang
Disebutkan dalam laman yang sama, DCA adalah strategi investasi yang sederhana dan efektif banget buat mengumpulkan aset dalam jangka panjang.
Intinya, strategi ini bisa bermanfaat buat investor, terutama di saat pasar sedang berfluktuasi.
Dalam jangka panjang, metode ini juga bisa membantu menurunkan biaya rata-rata per unit dibandingkan jika membeli sekaligus dalam jumlah besar pada satu waktu.
Baca juga: Broker Summary Itu Apa? Ini Fungsi dan Cara Analisis Biar Nggak Salah Baca!
Cara Kerja DCA
Sebagai contoh, jika harga Bitcoin saat ini $50.000 dan kamu langsung membeli dengan sistem lump sum, maka kamu akan mendapatkan 1 BTC dengan harga dasar (cost basis) $50.000.
Jika dana $50.000 tersebut dibagi menjadi lima kali dengan strategi DCA, misalnya di $50.000/BTC, $45.000/BTC, dan $25.000/BTC, maka rata-rata harga dasar pembelian kamu bisa turun menjadi $40.000 per BTC.
Dari skenario ini, kamu akan mengumpulkan total 1,4 BTC.
Dengan berinvestasi jumlah yang sama secara konsisten, kamu akan membeli lebih banyak unit saat harga murah dan lebih sedikit unit saat harga mahal.
Baca juga: Saham Suspend: Ketika Perdagangan Dihentikan Sementara dan Bikin Investor Deg-degan
Dalam jangka panjang, strategi ini bisa membantu menurunkan rata-rata biaya pembelian per unit aset.
Tips Memilih Aset untuk DCA Crypto
1. Tren Pasar
Lihat sentimen pasar dan tren yang berkembang di media sosial, portal berita, dan komunitas kripto.
Apakah orang-orang melihat proyek ini positif atau sebaliknya?
2 .Metriks Utama
Perhatikan volume perdagangan, riwayat pergerakan harga, dan likuiditas. Faktor-faktor ini bisa membantu menilai potensi jangka panjang.
Baca juga: DYOR Artinya Apa? Panduan Riset Mandiri ala Investor Kripto Biar Nggak Ketipu Hype
3. Ketahanan (Durability)
Coba kamu cek juga, sejak kapan aset tersebut hadir di pasar? Karena DCA biasanya dilakukan dalam jangka panjang (bertahun-tahun), kripto yang dipilih sebaiknya sudah terbukti memiliki rekam jejak dan bertahan lama.
Risiko dan Keuntungan Strategi DCA
Meski terlihat sederhana dan efektif, strategi DCA crypto juga punya beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Karena DCA bisa saja ambruk dalam kondisi tertentu. Berikut beberapa keuntungan dan risiko DCA yang bisa kamu perhatikan.
1. Sederhana dan Mudah
DCA adalah salah satu strategi paling sederhana yang bisa digunakan siapa saja, baik pemula maupun berpengalaman.
Baca juga: ARA dan ARB Saham: Istilah Wajib Buat Pemula Biar Nggak Salah Langkah di Pasar Modal
Tidak butuh analisis teknikal rumit, tidak perlu menebak timingpasar, dan bisa berjalan otomatis melalui program tabungan/investasi rutin.
2. Disiplin Menabung
Strategi menambahkan dana secara rutin ke akun investasi membangun kebiasaan secara disiplin seperti menabung.
Nilai portofolio akan terus bertambah, meskipun aset yang ada kadang sedang turun nilainya. Namun, jika penurunan pasar berlangsung lama, tentu ada risiko nilai portofolio ikut tertekan.
3. Mengelola Emosi dalam Investasi
Banyak investor terjebak dalam investasi emosional, misalnya karena takut rugi besar setelah membeli sekaligus.
DCA membantu mengurangi faktor emosional ini. Dengan strategi beli rutin, investor bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang tanpa mudah terpengaruh berita atau hype jangka pendek dari media maupun pasar.
4. Tidak Melindungi dari Pasar Turun Berkepanjangan
DCA crypto memang bisa membantu mengurangi risiko membeli di harga puncak, tapi tidak memberikan perlindungan penuh jika pasar jatuh terus-menerus.
Nilai portofolio tetap bisa turun. Karena itu, manajemen risiko tetap penting, misalnya dengan melakukan diversifikasi ke berbagai aset lain seperti saham, obligasi, atau properti.
Baca juga: Apa itu Sekuritas? Si Gerbang Masuk Investasi Saham yang Wajib Dipahami Pemula
5. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)
Dengan DCA crypto, investasi dibagi dalam jangka waktu tertentu. Artinya, kamu mungkin melewatkan keuntungan besar jika harga kripto langsung naik tajam setelah memulai berinvestasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pintu Academy