Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 06:45 WIB

Saham Emas Apa Saja yang Menarik di Indonesia? Ini Bedah Saham Tambang Emas dari Sudut Pandang Dividen

Author

Ilustrasi Saham Emas di Indonesia. (dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Saham sektor tambang emas kembali jadi bahan obrolan hangat di awal tahun. Setelah pergerakan harga emas dunia cukup agresif, saham-saham berbasis emas di Bursa Efek Indonesia ikut kebagian sorotan.

Lewat kanal YouTube @Arif TW Saham Syariah, investor diajak membedah saham tambang emas dengan pendekatan yang cukup beda dari kebanyakan, yaitu dividend investing atau investasi berbasis aliran dividen.

Alih-alih mengejar saham yang naik cepat, pendekatan ini lebih fokus pada dampak langsung ke portofolio.

Bahasa sederhananya, uang yang benar-benar masuk ke kantong investor, bukan sekadar angka hijau di layar.

Video ini pun ramai dibahas karena mengulas saham-saham emas populer seperti ANTM, UNTR, ARCI, MDKA, PSAB, BRMS, hingga EMAS, lalu membandingkannya dari sisi valuasi dividen.

Baca juga: 6 Tanda Harga Emas Turun yang Sering Terlewat, Jangan Sampai Salah Ambil Langkah

Saham Tambang Emas yang Aktif Diperdagangkan

Dalam pembahasan video, saham-saham tambang emas yang disorot adalah emiten dengan volume transaksi besar, umumnya di atas 1.000 lot per hari.

Beberapa nama yang sering muncul di radar investor antara lain Antam atau ANTM, United Tractors atau UNTR, Archi Indonesia atau ARCI, Medco Energi atau MEDC, Merdeka Copper Gold atau MDKA, J Resources Asia Pasifik atau PSAB, Bumi Resources Minerals atau BRMS, serta EMAS.

Saham-saham ini bergerak di sektor yang sama, tapi karakter bisnis dan perlakuannya ke investor sangat berbeda.

Ada yang rajin bagi dividen, ada juga yang masih fokus ekspansi dan belum memberi imbal hasil tunai ke pemegang saham.

Pendekatan Dividend Investing yang Dipakai

Narator dalam video menekankan satu hal penting sejak awal, yakni mindset. Investasi saham dianggap seperti membeli bisnis.

Artinya, investor seharusnya tahu bisnis itu menghasilkan apa, dan bagaimana hasilnya bisa dinikmati secara nyata.

Dalam konteks ini, dividen dianggap sebagai direct impact atau efek langsung ke portofolio. Capital gain tetap diakui, tapi hanya sebagai bonus.

Jadi kalau sebuah saham tidak membagikan dividen, maka dalam metode ini nilainya dianggap nol, bukan karena perusahaannya buruk, tapi karena tidak memberi aliran kas ke investor.

ANTM Jadi Bintang di Sektor Emas

Dari semua saham tambang emas yang dibahas, ANTM atau Antam jadi sorotan utama.

Alasannya simpel, yield dividen yang ditawarkan tergolong tinggi. Dengan asumsi payout ratio 100 persen, yield dividen Antam diperkirakan bisa mencapai 9,6 persen.

Jika menggunakan pendekatan dividend investing, angka ini cukup besar dan menarik, apalagi untuk investor jangka panjang.

Dengan asumsi tersebut, harga wajar ANTM berada di kisaran Rp3.400-an. Jika payout ratio hanya 50 persen, yield memang turun menjadi sekitar 4,8 persen, tapi tetap tergolong kompetitif di sektor tambang.

Dari sisi teknikal, ANTM disebut masih bergerak sideways, namun terlihat ada indikasi akumulasi volume. Artinya, ada potensi pergerakan lanjutan jika sentimen mendukung.

UNTR Konsisten dan Cenderung Stabil

United Tractors atau UNTR juga masuk daftar saham emas yang dinilai menarik. Meski dikenal sebagai raksasa alat berat dan energi, UNTR punya eksposur ke emas dan konsisten membagikan dividen dari tahun ke tahun.

UNTR dinilai punya karakter mirip Astra Internasional, stabil, mapan, dan cocok untuk investor yang mencari ketenangan.

Dari sisi pergerakan harga, UNTR disebut sedang berada dalam tren strong uptrend. Saham ini sudah menembus level resistensi di akhir 2024 dan masih punya ruang naik menuju area Rp34.000, dengan potensi capital gain sekitar 14 persen.

Bagi investor dividen, kombinasi antara yield rutin dan tren harga yang sehat membuat UNTR terlihat cukup solid.

Baca juga: 9 Rahasia Jual Emas Biar Untung, Bukan Cuma Balik Modal Doang!

Ilustrasi Saham Emas di Indonesia (Freepik)

ARCI dan MEDC dalam Radar Investor

ARCI atau Archi Indonesia juga masuk pembahasan karena fokus bisnisnya cukup murni di emas.

Namun, soal dividen, ARCI masih belum seagresif ANTM atau UNTR. Saham ini lebih sering dilirik investor yang mengincar pertumbuhan harga seiring kenaikan produksi emas.

Sementara itu, MEDC atau Medco Energi sebenarnya lebih dikenal sebagai pemain migas. 

Namun, perusahaan ini juga punya portofolio emas dan dikenal rutin membagikan dividen dua kali setahun. 

Dalam pendekatan dividend investing, MEDC masih dianggap relevan karena tetap memberikan aliran kas ke investor, meski emas bukan bisnis utamanya.

MDKA, PSAB, BRMS, dan EMAS Dinilai Nol Secara Dividen

Bagian yang cukup mengundang diskusi adalah saat narator menilai saham MDKA, PSAB, BRMS, dan EMAS.

Keempat saham ini dicatat belum atau tidak membagikan dividen. Karena itu, jika dihitung menggunakan pendekatan dividend investing, harga wajarnya dianggap nol.

Pernyataan ini sering disalahartikan. Nol di sini bukan berarti sahamnya jelek atau tidak layak dibeli.

Tapi dalam metode yang dipakai, saham tanpa dividen tidak memberikan direct impact ke portofolio investor. Keuntungan hanya bergantung pada capital gain, yang sifatnya tidak pasti.

Narator juga jujur menyampaikan bahwa dirinya tidak terlalu paham cara bermain di saham-saham yang harganya bisa naik drastis tanpa dasar dividen atau fundamental arus kas yang jelas. Fokusnya adalah keamanan dan hasil yang terukur.

Simulasi Dividen untuk Hidup di Masa Depan

Salah satu bagian menarik dalam video adalah simulasi dividen for living. Dengan asumsi yield dividen sekitar 9 persen seperti ANTM, investor yang rutin menabung Rp2 juta per bulan selama 25 tahun berpotensi mendapatkan dividen sekitar Rp22 juta per bulan.

Simulasi ini tentu bukan janji pasti, tapi memberi gambaran bagaimana kekuatan compounding bekerja jika digabung dengan dividen rutin.

Bagi investor jangka panjang, pendekatan ini dianggap lebih realistis dibanding sekadar mengejar saham yang naik cepat tapi tidak memberi hasil rutin.

Baca juga: 7 Tanda Harga Emas Akan Naik, Sinyal Penting Buat Kamu yang Lagi Nimbang Investasi

Ilustrasi Saham Emas di Indonesia. (dok. Istimewa)

Di akhir pembahasan, narator menekankan bahwa setiap investor harus paham tujuan investasinya.

Mau fokus dividen, capital gain, atau kombinasi keduanya, semuanya sah. Nah yang penting, alasannya jelas dan punya keyakinan atau conviction.

Tanpa tujuan yang jelas, investor berisiko hanya jadi donatur di pasar saham. Khusus untuk sektor emas, saham seperti ANTM dan UNTR dianggap lebih cocok untuk investor yang mengejar stabilitas dan aliran kas, sementara saham seperti MDKA, PSAB, BRMS, dan EMAS lebih cocok untuk mereka yang siap dengan risiko dan fokus ke pertumbuhan harga.

Kesimpulannya, saham emas di Indonesia punya karakter yang sangat beragam. Tidak ada yang paling benar atau paling salah, semuanya kembali ke strategi dan gaya masing-masing investor.

 terpenting, pahami bisnisnya, pahami risikonya, dan jangan ikut-ikutan tanpa tahu arah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU