INDOZONE.ID - Selama bertahun-tahun, emas diniliai sebagai instrumen investasi yang paling aman dan menguntungkan. Banyak investor menyebut emas sebagai “save heaven”, dengan alasan nilainya yang selalu terjaga.
Harga emas ini biasanya suka berbanding terbalik dengan kondisi perekonomian dunia pada umumnya. Saat kondisi ekonomi membaik, harga emas justru cenderung menurun. Namun, saat kondisi ekonomi tidak pasti, harga emas justru cenderung naik.
Baca juga: Mengapa Bitcoin Dianggap Tahan Inflasi? Ini Penjelasannya
Selain emas, instrumen investasi yang semakin populer dan cenderung aman pergerakannya yaitu reksadana. Investasi reksadana ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan dengan modal yang cukup terjangkau.
Gak heran, kalau banyak masyarakat saat ini makin melek keuangan dan investasi. Ditambah informasi yang lebih mudah untuk didapatkan.
Baca juga: Mengapa Bitcoin Dianggap Tahan Inflasi? Ini Penjelasannya
Tapi banyak yang masih bingung untuk memilih di antara keduanya. Untuk memantapkan pilihan, kamu harus mengetahui kelebihan dan kekurangan keduanya.
Dengan cara ini, baik investasi emas atau reksadana, kamu akan lebih paham keuntungan dan risiko yang didapat.
Investasi Emas
Investasi ini banyak disukai oleh orang-orang sejak dulu. Emas digunakan untuk menabung mengganti uang. Banyak orang menyimpan emas dalam bentuk perhiasan. Namun, saat ini banyak orang lebih suka membeli emas batangan.
Baca juga: Mentan Sebut Proyeksi Produksi Beras Nasional Surplus hingga Oktober
Investasi emas tidak pernah sepi dan bakal selalu dicari. Investasi ini juga dinilai cocok untuk pemula, karena risiko yang terbilang rendah. Sementara itu, emas memiliki likuiditas tinggi, mudah dijual atau dibeli kapanpun.
Kelebihan Investasi Emas
- Mudah dicairkan karena likuiditas tinggi
- Bisa sebagai aset jaminan
- Salah satu instrumen investasi yang praktis
- Kenaikan harga cenderung stabil, cocok sebagai pelindung kekayaan efek inflasi
- Risiko jangka panjang yang rendah
Baca juga: Membahas Kesiapan SDM Indonesia di IHCBS 2025
Kekurangan Investasi Emas
- Harga naik cenderung melambat
- Risiko kehilangan fisik seperti pencurian
- Ketika beli atau jual perlu membayar biaya spread tinggi (perbedaan harga beli dan jual)
Baca juga: Diskusi Strategis SDM dalam Hadapi Transformasi Ekonomi di IHCBS 2025
Investasi Reksadana
Mungkin kamu sudah gak asing dengan instrumen investasi yang satu ini, tapi masih banyak juga yang belum paham.
Reksadana adalah investasi dengan cara menghimpun dana dari banyak investor di satu tempat tertentu. Modal dari para investor tersebut dikelola oleh manajer investasi.
Alur reksadana mulai dari membeli unit penyertaan, yang selanjutnya manajer investasi akan mengalokasikan dana sesuai yang disepakati. Reksadana dikategorikan dalam beberapa jenis, seperti pasar uang, saham, pendapatan tetap, bahkan campuran.
Baca juga: 7 Olahan Singkong yang Paling Cocok Jadi Ide Bisnis Kreatif, Dijamin Cuan Gede!
Kelebihan Investasi Reksadana
- Modal seminim mungkin, mulai dari Rp10.000
- Tidak berbentuk fisik, risiko kehilangan kecil
- Opsi diversifikasi portofolio investasi
- Punya jam perdagangan
- Praktis, aman, dan jauh dari risiko penipuan bahkan pemalsuan asal beli di lembaga yang memiliki izin
Baca juga: Olahan Pisang Jadi Ladang Cuan UMKM Kota Parepare
Kekurangan Investasi Reksadana
- Keterbatasan likuiditas karena tidak gampang dicairkan sewaktu-waktu
- Penurunan nilai kalau portofolio reksadana, seperti saham, obligasi, surat berharga mengalami penurunan
- Bisa terjadi wanprestasi kalau perusahaan tidak mampu bayar klaim atau lebih rendah dari pertanggungan
Baca juga: Harga Emas Melejit Tembus Rp2,060 Juta per Gram, Cetak Rekor Teringgi
Dilihat dari kelebihan dan kekurangan emas dan reksadana, sebenarnya gak ada yang pasti lebih baik atau tidak. Semua tergantung ke masing-masing orang yang mau beli.
Namun, setidaknya sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya untuk dipertimbangkan ingin beli yang mana.
Reksadana bisa jadi pilihan karena lebih praktis dan fleksibel. Sedangkan emas juga bisa jadi pilihan karena memiliki likuiditas tinggi dan tidak tergerus inflasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bareksa.com, Ocbc.id