Ilutrasi mata uang dolar dan tambang minyak (scbgold.com)
INDOZONE.ID - Istilah petrodolar mungkin sudah tidak asing bagi seseorang yang mendalami ekonomi, khususnya dalam ekspor impor minyak mentah. Petrodolar muncul sekitar tahun 1970-an, dan mengubah negara perdagangan negara-negara kaya minyak.
Selain itu, istilah ini menegaskan adanya dominasi dolar dalam sebuah perdagangan internasional. Popularitas dolar AS ini tidak bergantung pada itikad baik negara pengekspor minyak, tapi karena posisi AS sebagai negara ekonomi terbesar di dunia.
Baca juga: Kementerian ESDM Sita 50 Ribu Ton Batu Bara Ilegal di Kutai Kartanegara
Petrodolar merupakan istilah untuk pendapatan dolar AS yang dihasilkan dari ekspor minyak. Petrodolar bukan mata uang sendiri, melainkan alat pembayaran oleh negara pengekspor minyak.
Salah satu contoh daur ulang petrodolar yaitu kesepakatan tahun 1974 antara Arab Saudi dan Amerika Serikat untuk mengalirkan petrodolar Saudi ke obligasi pemerintah AS.
Saat ini, banyak negara pengekspor minyak menginvestasikan petrodolar ke saham, obligasi, dan instrumen keuangan lainnya.
Dalam berbagai forum, khususnya kripto menilai bahwa sistem petrodolar diambang kehancuran. Ini karena banyak orang menyoroti rivalitas antara AS dan kekuatan ekonomi besar yang sedang bangkit, sanksi ekonomi, dan penguatann hubungan antara negara OPEC dan BRICS.
Selain itu, kekuatan besar seperti China dan Rusia juga mulai tidak menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan.
Akibat fenomena ini, pengaruh petrodolar berpotensi berkurang, tapi tidak dalam waktu dekat dan cepat. Walaupun kepemilikan dolar As menurun, mata uang ini masih jadi cadangan devisa global terbesar tanpa adanya pesaing nyata.
Menurut IMF, kuartal pertama 2024, dolar AS menyumbang 58% dari cadangan mata uang global. Angka ini lebih besar dibanding mata uang lainnya, seperti Euro (20%), yen Jepang (5,5%), poundsterling Inggris (4,9%), dan renminbi China (2,6%).
Baca juga: Perdagangan Derivatif Kripto Tumbuh Pesat, Peluang Tambah Cuan Makin Besar di 2026
Petrodolar yang didaur ulang ke investasi luar negeri atau domestik bisa mendapatkan manfaat finansial dan sosial. Akan tetapi, petrodolar memiliki dampak negarif jika digunakan untuk penindasan dalam negeri atau membiayai perang di luar negeri.
Sebagai contoh, tindakan pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi di Turki atau invasi Rusia ke Ukraina, memunculkan perspektif bahwa petrodolar digunakan untuk membiayai perang dan pelanggaran HAM.
Selain itu, Rusia yang berupaya melawan sanksi AS sejak tahun 2022 melalui penguatan kerja sama dengan sekutunya. Langkah ini bisa saja diikuti oleh banyak negara untuk melakukan dedolarisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Investopedia.com