Ilustrasi uang rupiah. (Freepik/mehaniq)
INDOZONE.ID - Nilai tukar rupiah bergerak menguat 49 poin atau 0,29 persen, dari Rp16.896 menjadi Rp16.847 per dolar AS, dalam pembukaan perdagangan Jumat pagi di Jakarta (23/01/2026).
Melansir ANTARA, Presiden Direktur PT Doo Financia; Futures, Ariston Tjendra, menyebut penguatan rupiah ini diiringi tanda Presiden AS Donald Trump yang tidak mengerahkan militernya untuk menyerang Greenland.
"Kelihatan pagi ini indeks saham Asia positif, semalam juga indeks saham Amerika Serikat (AS) positif. Beberapa nilai tukar emerging market juga kelihatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat," jelasnya.
Baca juga: Danantara Bangun 1.275 Hunian Sementara di Tiga Provinsi Terdampak Bencana
Trump menangkal adanya penggunaan militer untuk merebut Greenland, sebagai upaya mengakuisisi wilayah Arktik tersebut.
Selain itu, Trump juga mencabut ancaman pemberlakukan tarif 10 persen ke delapan negara Eropa mulai Februari, seiring adanya penolakan dari negara-negara mengenai upaya Presiden AS tersebut ambil alih Greenland.
Walaupun statement tersebut disebut sebagai angin segar ke sejumlah mata uang, nilai penguatan rupiah masih terbatas.
"Overall tekanan terhadap rupiah masih besar karena kebijakan moneter Bank Indonesia yang masih tetap longgar, stimulus besar-besaran dari pemerintah ke perekonomian, kemudian situasi bencana yang berpotensi meredam pertumbuhan ekonomi," ungkap Aris.
Baca juga: Cetak Talenta Digital Industri, Kemenperin Gandeng China
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) masih menahan suku bunga acuan atau BI-Rate, yang tetap pada level 4,75 persen. Keputusan ini dianggap masih wajar dilakukan.
"(Jika) Bank Indonesia memangkas suku bunga lagi atau memberi indikasi pelonggaran terus, mungkin bank sentral Indonesia tidak kuat untuk menahan pelemahan rupiah," ucap dia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA