Kamis, 07 MEI 2026 • 17:00 WIB

Dari Hobi Jadi Cuan, Kisah Perajin Sangkar Burung yang Ikut Gerakkan Ekonomi Rakyat

Author

Sangkar burung di Festival Lomba Burung Berkicau (Biro Humas Kemendag)

INDOZONE.ID - Buat sebagian anak muda, lomba burung berkicau mungkin terdengar seperti hobi generasi bapak-bapak.

Tapi siapa sangka, di balik suara merdu burung dan ramainya gantangan, ada roda ekonomi besar yang terus berputar. 

Mulai dari peternak burung, penjual pakan, hingga perajin sangkar, semuanya ikut hidup dari ekosistem hobi ini.

Hal itu terlihat dalam Festival Lomba Burung Berkicau yang digelar di kawasan Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu. 

Baca juga: Bernilai Hingga Rp2 Triliun, Mendag Dorong UMKM dan Industri Dukung Kicau Mania

Di tengah ramainya peserta dan pengunjung, perhatian Menteri Perdagangan Budi Santoso justru tertuju pada sesuatu yang mungkin sering dianggap sepele, sangkar burung.

Bukan tanpa alasan. Sangkar-sangkar yang dipamerkan di sana tampil seperti karya seni. Ukiran kayunya detail, bentuknya elegan, dan masing-masing dibuat dengan karakter yang berbeda.

Di balik deretan sangkar tersebut, ada sosok Nurhasanah Dewi, pemilik Kios Fortuna di Pasar Pramuka, Jakarta.

Nurhasanah sudah lama menjual sangkar hasil karya perajin lokal dari berbagai daerah seperti Bandung, Semarang, hingga Sidoarjo. 

Menurutnya, sangkar burung bukan cuma tempat tinggal untuk burung peliharaan.

"Di dunia kicau mania, sangkar itu identitas," katanya. 

Karena itu, bentuk sangkar tidak bisa dibuat asal-asalan. Setiap jenis burung punya standar dan kebutuhan berbeda.

Sangkar burung di Festival Lomba Burung Berkicau (Biro Humas Kemendag)

Sangkar untuk burung murai, misalnya, berbeda dengan cucak hijau. Ukuran, bentuk, hingga ruang geraknya harus disesuaikan agar burung tetap nyaman dan bisa tampil maksimal saat lomba.

Nurhasanah mengaku, dalam tiga tahun terakhir, minat masyarakat terhadap burung kicau meningkat cukup pesat.

Fenomena ini ikut mendongkrak penjualan sangkar burung dan perlengkapan lainnya. Bahkan pelanggan Kios Fortuna kini tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Batam hingga Medan.

Menurutnya, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam juga ikut membuat tren memelihara burung semakin ramai.

“Tiga tahun belakangan minat terhadap burung semakin meningkat. Pengaruhnya besar sekali terhadap penjualan,” ujarnya.

Kalau dipikir-pikir, satu lomba burung ternyata bisa menghidupkan banyak sektor sekaligus.
Ada peternak burung, pembuat sangkar, produsen pakan, pedagang aksesoris, hingga penyelenggara acara yang semuanya ikut mendapat manfaat ekonomi.

Baca juga: Mendag Bantah Minyakita Langka, Pasokan Minyak Goreng Tetap Aman

Mendag Budi Santoso bersama Wamendag Dyah Roro Esti Widya Putri di Festival Lomba Burung Berkicau (Biro Humas Kemendag)

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso bahkan menyebut hobi burung berkicau sebagai salah satu “mesin ekonomi rakyat”.

“Kalau lomba burung semakin ramai, dampaknya peternak bertambah, pembuat sangkar berkembang, pabrik pakan hidup, dan penjual burung juga ikut bergerak,” jelas Mendag Budi.

Dengan kata lain, hobi yang terlihat sederhana ternyata punya efek domino yang besar bagi ekonomi masyarakat.

Meski bisnisnya berkembang, Nurhasanah mengaku masih menghadapi tantangan, terutama jika ingin menjual produknya ke pasar internasional.

Biaya pajak dan pengiriman yang tinggi membuat pelaku usaha kecil cukup kesulitan menembus pasar luar negeri. Karena itu, ia berharap pemerintah bisa terus mendukung para perajin lokal agar produk mereka semakin mudah bersaing.

“Saya berharap pemerintah memperhatikan perdagangan dan para perajinnya supaya semuanya bisa berjalan lancar,” kata Nurhasanah.

Festival burung berkicau bukan cuma soal mencari burung terbaik. Di balik setiap sangkar yang tergantung, ada tangan-tangan perajin lokal yang bekerja dengan teliti demi menghidupi keluarga mereka.

Dari bambu, kayu, dan ukiran sederhana, lahirlah produk yang bukan hanya bernilai estetika, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang.

Hobi yang dulu dianggap sekadar hiburan kini ternyata ikut membantu menggerakkan ekonomi rakyat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Biro Humas Kemendag

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU