Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd, Kevin Monteiro.
INDOZONE.ID - Di tengah meningkatnya tren investasi berkelanjutan atau ESG (Environmental, Social, Governance), investor kini tak melulu memikirkan keuntungan perusahaan. Mereka juga ingin tahu apakah bisnisnya berdampak baik pada lingkungan dan sosial.
Di Indonesia, banyak perusahaan yang dituntut transparan dan berjalan sustainable. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA), yaitu pendekatan berbasis sains untuk mengukur dampak lingkungan dari suatu produk atau aktivitas bisnis secara menyeluruh.
Baca juga: Tarif Transjabodetabek Bakal Naik, Pakai Sistem Flat atau Berdasarkan Jarak?
Dalam sebuah panel diskusi internasional bertajuk bertajuk “Science-Based Sustainable Finance” pada Konferensi Social Life Cycle Assessment (S-LCA), para praktisi menyoroti pentingnya penggunaan data ilmiah yang akurat. Tujuannya untuk mengetahui area mana yang paling besar memberikan dampak terhadap lingkungan dan berjalan berkelanjutan.
Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd, Kevin Monteiro mengatakan, saat membangun perusahaan, kepercayaan investor tidak bisa dibangun hanya melalui kampanye atau janji keberlanjutan. Mereka biasanya lebih fokus pada aspek pendekatan LCA berbasis sains.
Baca juga: Mandatori B50 Jadi Jalan Strategis Tekan Angka Impor
“Membangun kredibilitas di mata investor ESG harus dimulai dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari bisnis, bukan sekadar inisiatif terpisah,” kata Kevin dalam keterangannya.
“Perusahaan perlu fokus pada aspek yang benar-benar material di sepanjang rantai nilai untuk mengidentifikasi area yang memiliki potensiperbaikan paling signifikan,” sambungnya.
Ia sendiri mencontohkan bahwa JAPFA selalu mengintegrasikan pendekatan ilmiah. Hasilnya di tahun 2021, perusahaan berhasil memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta atau Rp6,3 Triliun, yang menjadi yang pertama di dunia untuk sektor agrifood.
Pencapaian ini berlanjut di 2025 melalui Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$150 juta atau Rp2,7 Triliun. Fokusnya pada peningkatan status gizi dan kesejahteraan anak-anak, khususnya di wilayah pedesaan.
Untuk memastikan seluruh target keberlanjutan dapat dipantau dengan baik, Kevin menyebut perusahaan mengembangkan ekosistem digital yang mengelola lebih dari 5.000 titik data ESG. Kemudian berkolaborwsi dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam studi internasional mengenai kesejahteraan peternak plasma.
Baca juga: Ini Negara Anggota ASEAN yang Tidak Mengandalkan Sektor Pertanian
Hasil penelitian ini menjadi salah satu referensi dalam penyusunan pedoman Social Life Cycle Assessment (S-LCA) untuk industri perunggasan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan