Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan. (Dewi Kania/Z Creators)
INDOZONE.ID - Wae Rebo menjadi salah satu destinasi wisata populer di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan hanya mengandalkan pemasukan dari sektor pariwisata, para perempuan di desa ini juga diberdayakan untuk membuat kain tenun sekaligus menjaga warisan budaya wastra Nusantara dan alam hingga kini.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan mengatakan, NTT punya potensi besar untuk pengembangan ekonomi restoratif dan berkelanjutan. Namun, wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan sosial-ekonomi yang sangat tinggi.
“Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT, mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak hingga stunting, saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” kata Veronica saat Press Conference "Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur" di Tugu Kunstkring Jakarta, Sabtu 13 Juni 2026.
Baca juga: Industri Kreatif itu Mesin Ekonomi Masa Kini: Dari Ide Sederhana Bisa Jadi Peluang Besar
Data BPS Februari 2026 mencatat tingkat kemiskinan di NTT mencapai 17,5 persen, sementara prevalensi stunting masih berada di angka 31,4 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta perdagangan orang masih menjadi persoalan serius.
Namun belakangan ini, para perempuan NTT menjadi penggerak ekonomi restoratif melalui berbagai program. Selain membuat kain tenun, mereka terlibat dalam agroforestri bambu (Mama Bambu) dan Kebun Pangan Perempuan (KPP).
Pameran Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur di Tugu Kunstkring Jakarta. (Dewi Kania/Z Creators)
Veronica sangat senang melihat perubahan positif ini dan selalu menyemangati mereka untuk terus berdaya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar berkebun biasa, tapi menjadi strategi penguatan perempuan dan keluarga dari desa.
“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” jelas Veronica,” kata Veronica.
Dalam press conference, turut hadir Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Ia menilai bahwa ekonomi kreatif menjadi sebuah yang relate dengan Unique Selling Point (USP) budaya Indonesia.
“Dari lapisan budaya itu maka bisa dilahirkan berbeda-beda. Contoh tenun, makanan, mini arsitektur yang semuanya menjadi local wisdom dan jangan sampai benar-benar punah,” kata Irene.
Irene juga mengajak generasi muda untuk menjaga kelestarian budaya Indonesia. Ia ingin budaya ini gak hanya dikenal di luar negeri, tapi di Indonesia juga harus relevan.
“Caranya dengan generasi muda dan anak-anak mengenal budaya kita gak hanya dilestarikan tapi juga dicintai,” bebernya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan