INDOZONE.ID - Di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian geopolitik, sektor makanan dan minuman justru tetap menjadi salah satu tulang punggung industri manufaktur.
Dalam kondisi ini, permintaan terhadap produk minuman kemasan disebut masih relatif kuat.
Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat bahwa berdasarkan data BPS pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).
Dari data itu, subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional.
Baca juga: Grab Bantah Rumor Hengkang dari Indonesia, Tegaskan Komitmen Dukung Ekonomi Digital
Sementara data inflasi per April 2026 menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year).
Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi umum nasional yang sebesar 2,42 persen.
Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan, meski menunjukkan ketahanan secara makro, kualitas pertumbuhan industri minuman kemasan di lapangan banyak menghadapi tantangan riil. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menurunnya daya beli masyarakat.
“Walau industrinya bertumbuh, saat ini masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat,” katanya saat ditemui di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Indonesia Catat Surplus Dagang di April 2026, Ditopang Ekspor Nonmigas
Ia menambahkan, pada kuartal 1 tahun 2026, daya beli masyarakat sempat membaik selama momentum Ramadan dan Lebaran.
Kondisi ini turut mendorong konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi, sehingga permintaan terhadap minuman ringan tetap menunjukkan tren positif.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengatakan, industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen.
Pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen.
“Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat,” paparnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang demi menjaga resiliensi industri minuman kemasan di Indonesia.
Menurutnya, peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan.
“Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha,” terangnya.
Baca juga: 7 Persiapan Penting yang Bikin Usaha Rental Mobil Tidak Merugi, Cocok untuk Pemula!
Merespons kondisi tersebut, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mendukung ekosistem industri dari sisi regulator.
Ia menyebut, pada Triwulan I-2026, industri makanan dan minuman menjadi subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional, dengan sektor pengolahan berkontribusi sekitar 19% terhadap PDB.
“Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman. Pemerintah mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor makanan minuman,” ujar Merrijantij.
Karenanya, ia mengajak pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global saat ini.
Baca juga: Kementan Siapkan Dapur Susu Indonesia untuk Perkuat Pasokan MBG dan Serap Produksi Peternak Lokal
Hal ini menjadi penting agar sektor mamin bisa tetap menjadi penopang sektor industri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan