INDOZONE.ID - Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional melalui pengembangan kilang minyak, salah satunya lewat proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.
Proyek ini dinilai mampu memangkas impor bensin hingga 5,8 juta kiloliter (KL) per tahun, sekaligus menghasilkan BBM berstandar emisi Euro 5 yang lebih ramah lingkungan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 38,5 juta KL per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 14,27 juta KL.
Kebutuhan itu terdiri atas bensin RON 90 sekitar 28,9 juta KL, RON 92 sebesar 8,7 juta KL, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu KL per tahun.
Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan hingga 5,8 juta KL per tahun.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Beras dan Gula Konsumsi pada 2026
Dengan tambahan itu, impor bensin nasional dapat ditekan sehingga tersisa sekitar 19 juta KL per tahun, dan impor bensin RON 92, RON 95, serta RON 98 dapat dikurangi hingga sekitar 3,6 juta KL per tahun.
“Ke depan, melalui penerapan E10 kita bisa menghemat impor sampai 3,9 juta KL per tahun, dan dengan pengembangan kilang selanjutnya kita menargetkan dapat menghentikan impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor RON 90,” kata Bahlil dikutip Selasa (13/1/2026).
Ia menegaskan, penguatan dan pengembangan kilang merupakan amanat konstitusi sebagaimana Pasal 33 UUD 1945, bahwa cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.
Karena itu, peningkatan kapasitas kilang menjadi bagian dari tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat.
RDMP Balikpapan dilengkapi fasilitas utama berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Melalui CDU sebagai jantung kilang, kapasitas pengolahan meningkat dari semula 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel minyak per hari. Sementara RFCC memungkinkan pengolahan residu menjadi produk bernilai tinggi.
Proyek ini juga terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe berkapasitas total dua juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang menopang distribusi BBM ke Indonesia bagian timur.
“Yang sekarang kualitasnya sangat bagus, sudah menuju setara Euro 5 dan mengarah ke net zero emission,” ujar Bahlil.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan, Infrastruktur Energi Terintegrasi RDMP Pertamina Balikpapan, yang merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia, menjadi tonggak penting dalam ketahanan dan kedaulatan energi nasional karena mampu memproduksi BBM berstandar emisi Euro 5.
Baca juga: Kilang Minyak Terbesar Indonesia Diresmikan Hari Ini, Ini yang Perlu Kamu Tau Soal RDMP Balikpapan
Selain lebih bersih dan ramah lingkungan, kilang ini juga memiliki kapasitas pengolahan hingga 360.000 barel per hari, naik dari sebelumnya sekitar 260.000 barel per hari.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan sekaligus meninjau langsung fasilitas tersebut dan menyampaikan kebanggaan atas pencapaian sektor energi nasional. Ia menilai peresmian ini memiliki makna historis, mengingat peresmian kilang besar terakhir dilakukan lebih dari tiga dekade lalu.
“Tentunya saya menyambut dengan bahagia dan merasa sangat bangga atas yang kita hasilkan hari ini dengan peresmian ini,” kata Presiden Prabowo, Senin (12/1/2026).
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa negara yang merdeka harus mampu mandiri dalam pangan, energi, dan air.
Ia menargetkan Indonesia dapat mewujudkan kemandirian energi dalam lima hingga tujuh tahun ke depan, bahkan lebih cepat jika kerja keras semua pihak terus ditingkatkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: