Selasa, 18 NOVEMBER 2025 • 09:20 WIB

Produksi Beras Rendah Karbon Dianggap Lebih Menguntungkan Petani, Ini Penjelasan Perpadi!

Author

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)

INDOZONE.ID - Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menyatakan produksi beras rendah karbon tidak hanya ramah lingkungan, namun juga lebih efisien dibanding praktik konvensional. 

"Dalam rangka pelaksanaan low carbon ini, ternyata bukan menambah biaya, tetapi justru akan terjadi efisiensi. Efisiensi, baik di tingkat petani maupun di tingkat pembelian," ujar Sutarto saat Konferensi Pers International Sustainable Rice Forum (ISRF) di Ancol, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Sutarto menyatakan bahwa salah satu praktik rendah karbon adalah tidak perlu mengairi sawah secara terus-menerus sepanjang musim tanam, karena di beberapa daerah petani sering mengeluarkan biaya besar untuk itu, dan sawah yang tergenang air juga memicu produksi gas metana yang buruk bagi lingkungan.

Baca juga: Uni Eropa Buka Peluang Besar untuk Ekspor Indonesia Lewat Tarif Nol Persen

Sementara itu, penggunaan pupuk yang berlebihan oleh sebagian petani selama ini juga menjadi perhatian. 

Menurut Sutarto, standar bagan warna daun bisa menjadi panduan untuk menentukan jumlah pupuk yang tepat, dan petani juga sering menyemprot hama meski tidak ada hama sama sekali.

Maka dari itu, Perpadi mengawasi petani agar praktik produksi beras rendah karbon bisa terealisasikan tanpa menurunkan produktivitas pertanian. 

"Kita tahu bahwa penggunaan pupuk yang tinggi itu akan mengganggu kesuburan tanah," ujarnya.

Dengan penerapan sistem ini, produksi beras rendah karbon tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga mendorong efisiensi biaya dan menjaga kesuburan tanah, sehingga petani tetap mendapatkan hasil yang optimal.

Mengenal Beras Rendah Karbon dan Manfaatnya

Beras rendah karbon merupakan beras yang diolah dengan metode yang menghasilkan emisi gas karbon lebih rendah dibandingkan produksi konvensional.

Pendekatan ini melibatkan praktik pertanian ramah lingkungan, seperti pakai pupuk organik, kelola air yang efisien, dan ganti bahan bakar fosil pada penggilingan padi.

Baca juga: Kolaborasi Indonesia-UE Perkuat Kedaulatan Pangan dengan Beras Rendah Karbon

Hal itu bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung produksi beras yang berkelanjutan. Produksi beras selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca, mencapai sekitar 2,5 persen dari total emisi manusia.

Untuk mengatasi hal ini, proyek SWITCH-Asia Low Carbon Rice Project digagas dengan dukungan Uni Eropa, bertujuan menurunkan jejak karbon dari budidaya padi hingga penggilingan beras, dan sudah diuji coba di beberapa lokasi percontohan di Jawa Tengah, seperti Klaten, Sragen, dan Boyolali.

Beras rendah karbon juga jadi bagian dari strategi produksi berkelanjutan yang sejalan dengan ekonomi hijau, memadukan kelestarian lingkungan, kelayakan ekonomi, dan tanggung jawab sosial, jadi beras yang dihasilkan tidak hanya ramah lingkungan tapi juga dukung kesejahteraan petani jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU