INDOZONE.ID - Pemerintah dan Uni Eropa (UE) bekerja sama untuk mempercepat penerapan praktik budi daya beras rendah karbon, guna meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Denis Chaibi, memaparkan bahwa penguatan koperasi menjadi elemen penting dalam menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat posisi tawar petani di rantai nilai pangan.
“Koperasi memberi petani posisi tawar lebih kuat karena mereka bisa membeli benih, mengatur asuransi, dan menekan biaya secara kolektif,” ujar Chaibi dalam acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025).
Chaibi menyatakan bahwa mendukung penguatan koperasi dan teknologi rendah karbon adalah langkah strategis, untuk membantu Indonesia mencapai swasembada pangan dan mempersiapkan kebutuhan konsumsi yang meningkat pada 2026.
Ia menilai produksi beras rendah karbon bisa semakin berkembang jika petani memiliki skala usaha yang memadai. Hal itu memungkinkan efisiensi penggunaan air, pupuk, hingga pengelolaan teknologi budi daya yang lebih modern.
UE sebelumnya mendanai Low Carbon Rice Project (Proyek Beras Rendah Karbon) selama empat tahun, yang berhasil meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tingkat petani dan penggilingan, dan model ini dapat diperluas melalui kemitraan lanjutan.
Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso juga menegaskan penerapan praktik rendah karbon tidak menambah beban biaya, justru menghasilkan efisiensi di lapangan.
Menurut dia, pengaturan air yang tepat dan penggunaan pupuk yang rasional dapat menekan pemborosan tanpa menurunkan produktivitas.
"Dengan pendampingan, petani bisa lebih efisien. Penggunaan air berlebih dan pupuk yang tidak sesuai kebutuhan dapat dikurangi, dan hasilnya produktivitas tetap naik,” katanya.
Lebih lanjut ia menyoroti bahwa penggilingan padi yang beralih dari mesin diesel ke listrik mencatat efisiensi biaya hingga 40 persen. Teknologi tersebut juga berdampak pada penurunan emisi karbon sekitar 15 persen.
Sutarto menyatakan bahwa mayoritas petani merespons positif program pendampingan, terutama pada praktik pengairan berselang (AWD) dan pengurangan pupuk kimia berlebih.
Ia mengatakan perubahan perilaku itu memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kesuburan tanah dan pengurangan emisi.
Berdasarkan laporan Low Carbon Rice Project 2025, upaya itu telah mendukung 67 penggilingan padi kecil beralih dari bahan bakar diesel ke listrik, serta membangun kemitraan dengan lebih dari 2.650 petani di area 1.037 hektare menuju produksi beras berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung