Senin, 14 JULI 2025 • 10:26 WIB

Tarif 32 Persen Ditunda, Indonesia Berhasil Tahan Kebijakan Impor AS Era Donald Trump

Author

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Instagram/@airlanggahartarto_official) (Instagram/@airlanggahartarto_official)

INDOZONE.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa penerapan tarif resiprokal 32 persen untuk produk Indonesia yang diumumkan Presiden AS Donald Trump telah ditunda.

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan untuk tetap memberlakukan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk Indonesia mulai 1 Agustus 2025.

"Waktunya (penerapan tarif 32 persen) adalah kita sebut pause. Jadi penundaan penerapan untuk menyelesaikan perundingan yang sudah ada,” kata Airlangga saat memberikan keterangan pers di Brussel, Belgia, Sabtu (12/7/2025) waktu setempat, dikutip dari ANTARA, Senin.

Baca juga: Bursa Saham AS Melemah karena Presiden Trump Ancam Naikkan Tarif Impor

Penundaan penerapan tarif impor 32 persen oleh AS terhadap produk Indonesia diputuskan setelah pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan pejabat tinggi AS, yaitu Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Kepala Kantor Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di Washington D.C. pada Rabu, 9 Juli 2025. 

Menko memaparkan, dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak sepakat bahwa usulan Indonesia akan terus berproses dalam perundingan lanjutan selama tiga minggu ke depan.

"Jadi tiga minggu ini diharapkan finalisasi daripada fine tuning (penyelarasan) daripada proposal dan fine tuning daripada apa yang sudah dipertukarkan," jelasnya.

Lantaran sebelumnya Airlangga bertolak ke AS usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil. Tujuannya untuk melanjutkan negosiasi terkait tarif impor AS terhadap Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi momen penting dalam usaha memperkuat hubungan perdagangan Indonesia-AS, terlebih setelah pengumuman kebijakan tarif oleh Presiden Trump pada 7 Juli 2025 lalu.

"Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam upaya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan AS," kata dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Lebih lanjut Airlangga menuturkan bahwa perundingan dengan pihak AS tidak hanya membahas tarif, melainkan juga mencakup isu hambatan non-tarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi, serta kolaborasi komersial dan investasi.

Baca juga: Menko Airlangga Bertemu Pejabat AS, Bahas Negosiasi Tarif dan Kerja Sama Ekonomi

Amerika Serikat menunjukkan minat yang kuat untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia di bidang mineral kritis.

Kemitraan ini berpotensi besar meningkatkan hubungan dagang antara kedua negara, terutama pada komoditas seperti nikel, tembaga, dan kobalt yang menjadi andalan Indonesia. 

“AS menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk memperkuat kemitraan di bidang mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, tembaga, dan kobalt, dan kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama pengolahan mineral kritis tersebut,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU