INDOZONE.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah mengajukan tawaran kedua untuk investasi di sektor mineral kritis bersama Danantara Indonesia.
"Indonesia juga menawarkan ke Amerika criticalmineral untuk Amerika bersama Danantara untuk melakukan investasi di dalam ekosistem criticalmineral," kata Airlangga di Jakarta, dikutip dari ANTARA pada Selasa (1/7/2025).
Menurutnya, beberapa jenis mineral kritis yang ditawarkan mencakup tembaga, nikel, serta material yang dibutuhkan untuk mendukung industri kendaraan listrik, peralatan militer, dan sektor elektronik.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan Wisma Danantara, Rumah Besar Pengelolaan Investasi Negara
Menko Airlangga menjelaskan bahwa investasi yang ditawarkan kepada AS adalah proyek brownfield yang sudah berjalan, dengan contoh seperti operasional PT Freeport.
Lebih lanjut Airlangga memaparkan bahwa tawaran di sektor mineral kritis cukup menarik bagi Amerika Serikat. Namun demikian, ia tidak bisa mengungkap lebih detail lantaran masih dibahas secara tertutup, terkait dengan perjanjian non-disclosure.
"EV ecosystem itu terkait dengan nikel dan yang lain, dan ini sudah. Bagi Amerika ini cukup menarik, tawaran Indonesia ini cukup menarik," imbuhnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah melakukan pendekatan diplomasi perdagangan dengan AS melalui penawaran kedua terbaik dalam negosiasi tarif resiprokal pada masa pemerintahan Presiden Trump.
Menjelang batas akhir negosiasi yang jatuh pada 8 Juli mendatang, Airlangga menuturkan bahwa permintaan yang diajukan Pemerintah AS, baik berupa tarif maupun hambatan dagang, telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia.
"Negosiasi tarif kita kan sudah menyampaikan Indonesia second best offer. Dan beberapa permintaan Amerika itu sebagian sudah kita berikan, baik mengenai tarif, non-tariff barriermaupun komersial," ujar Airlangga.
Airlangga mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent yang pada prinsipnya mengapresiasi sejumlah tawaran yang disampaikan oleh Indonesia.
Namun tentunya, keputusan akhir negosiasi tarif antara Indonesia dan AS tidak bergantung pada satu pihak.
Pemerintah AS tentunya harus berkoordinasi dengan United States Trade Representative(USTR), Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan.
Hasil negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat mengenai tarif dagang bersifat dinamis karena mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan negosiasi dengan negara-negara lain seperti Inggris dan China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA