Ilustrasi Saham Gocap. (Freepik)
INDOZONE.ID - Dunia pasar modal memang nggak pernah sepi drama. Dari saham yang terbang tinggi sampai yang nyungsep ke level paling bawah, semuanya ada ceritanya. Salah satu istilah yang sering bikin investor ritel auto merinding adalah saham gocap.
Begitu dengar harga saham mentok di 50 rupiah, banyak yang langsung pasang stigma bahwa saham sampah, perusahaan mau bangkrut, atau saham nggak jelas. Padahal, realitanya nggak sesederhana itu.
Lewat pembahasan dari kanal YouTube @Hidup dari Trading, saham gocap justru dibedah dari sisi yang lebih dalam, mulai dari penyebab, risiko, sampai strategi menyikapinya dengan kepala dingin.
Baca juga: Delisting Saham dan Risikonya, Investor Jangan Cuma Fokus Cuan
Saham gocap adalah sebutan untuk saham yang harganya turun sampai batas terendah perdagangan di Bursa Efek Indonesia, yaitu 50 rupiah per lembar.
Di level ini, saham nggak bisa turun lagi secara harga, tapi bukan berarti risikonya berhenti.
Banyak investor pemula mengira saham gocap itu pasti perusahaan jelek atau hampir bangkrut. Faktanya, ada banyak jalan yang bisa bikin sebuah saham nyemplung ke harga segitu.
Dalam praktiknya, saham gocap sering muncul karena kombinasi antara strategi perdagangan, minimnya minat beli, dan psikologi pasar yang sudah terlanjur negatif.
Begitu harga turun terus, investor ritel mulai panik, jual rugi, lalu meninggalkan saham tersebut sendirian di pojok papan perdagangan.
Salah satu penyebab utama saham jadi gocap adalah teknik dagang dari pemilik modal besar. Dalam dunia trading, ini bukan rahasia lagi.
Ada saham yang sebelumnya sudah dinaikkan ke harga tinggi, misalnya 500 atau bahkan 1.000.
Setelah itu, saham dilepas ke publik secara bertahap. Ketika distribusi selesai, harga dibiarkan turun pelan-pelan sampai ke level paling rendah.
Logikanya sederhana. Setelah jual mahal, mana mungkin pelaku besar mau beli lagi di harga atas.
Mereka akan menunggu harga serendah mungkin, termasuk di level 50, untuk memungut kembali saham tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube