INDOZONE.ID - Apa sebenarnya yang membuat nilai rupiah kita kadang menguat tajam, dan di lain waktu justru melemah terhadap dolar AS?
Secara sederhana, nilai tukar mata uang melemah ketika permintaan terhadap mata uang asing lebih tinggi dibandingkan permintaan terhadap rupiah.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor kebijakan dalam negeri dan kondisi ekonomi global.
Berikut enam faktor utama yang menjadi penyebab kenapa nilai rupiah bisa melemah.
Baca juga: Pemerintah Buka Peluang Ekspor Ayam dan Telur ke China hingga Timur Tengah
1. Perbedaan Inflasi Dengan Negara Mitra Dagang
Inflasi mencerminkan laju kenaikan harga barang dan jasa. Negara dengan tingkat inflasi yang lebih rendah cenderung memiliki mata uang yang lebih stabil karena daya beli masyarakatnya terjaga.
Apabila inflasi Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara Amerika Serikat, maka nilai rupiah akan tergerus lebih cepat.
Akibatnya, untuk membeli barang yang sama dibutuhkan rupiah dalam jumlah lebih banyak, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.
2. Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral
Suku bunga merupakan daya tarik utama bagi investor global. Ketika Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed menetapkan suku bunga lebih tinggi dari Bank Indonesia, investor cenderung memindahkan dananya ke AS untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih besar.
Baca juga: Cara Jadi Jutawan dengan Kekuatan Compound Interest yang Bikin Uang Kerja Sendiri
Aliran modal keluar ini meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga rupiah melemah. Oleh karena itu, selisih suku bunga Bank Indonesia dan bank sentral Amerika, seringkali menjadi perhatian para pengamat pasar modal.
3. Faktor Beban Utang Pemerintah Dan Kepercayaan Investor
Tingkat utang pemerintah dan jadwal jatuh temponya berpengaruh pada kepercayaan investor. Jika investor menilai kondisi fiskal negara terbebani, kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia dapat menurun.
Penurunan kepercayaan ini membuat investor lebih berhati-hati dan seringkali permintaan aset mata uang dolar AS meningkat, sehingga menjadi penyebab rupiah melemah.
Pelemahan rupiah secara langsung berdampak pada meningkatnya harga barang impor, inflasi, dan biaya utang luar negeri.
Baca juga: Filosofi Pohon Pisang dan Warisan Turun-temurun yang Kembangkan Gobel Group
4. Faktor Defisit Neraca Perdagangan Dan Transaksi Berjalan
Neraca perdagangan mengukur selisih nilai ekspor dan impor. Jika nilai impor lebih besar dari ekspor, maka Indonesia membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk membayar barang dari luar negeri. Karena pembayaran untuk barang-barang impor umumnya menggunakan dolar AS.
Sebaliknya, jika surplus ekspor Indonesia meningkat yang menghasilkan devisa, maka nilai rupiah bisa stabil.
5. Faktor Kondisi Ekonomi Global Dan Kenaikan Harga Komoditas Minyak
Gejolak geopolitik, seperti penutupan di Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah, menjadi sebab harga minyak dunia naik.
Kenaikan harga energi, dan Indonesia masih menjadi importir bersih minyak, sehingga pemakaian dolar AS untuk pembayaran impor meningkat.
Baca juga: Daftar Perusahaan dengan Karyawan Terbanyak di Indonesia, Mana Saja?
Selain membebani anggaran negara melalui subsidi, kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit fiskal, yang pada akhirnya berakibat menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
6. Faktor Arus Keluar Modal Asing Atau Capital Outflow
Investor global berperan besar di saham perusahaan dan pasar keuangan Indonesia. Pada saat ketidakpastian ekonomi global meningkat seperti risiko resesi atau konflik geopolitik, investor cenderung menarik dananya dan memindahkannya ke aset safe haven, salah satunya di dolar AS.
Ketika dana asing ini keluar dari Indonesia dalam skala besar, maka permintaan dolar pun meningkat sehingga rupiah melemah.
Bagi masyarakat terutama generasi muda, pelemahan rupiah terasa pada kenaikan harga sembako, harga BBM, harga nonton konser, hingga kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Baca juga: Investasi Baru Rp1,25 Triliun di IKN Dinilai Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Memahami akar masalahnya menjadi langkah awal agar masyarakat dapat menyikapi dengan lebih bijak dan tidak terjebak pada spekulasi berlebihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pegadaian.co.id