INDOZONE.ID - Kabar baik datang dari nilai tukar rupiah. Pada Rabu pagi (8/4/2026), rupiah berhasil menguat cukup signifikan sekitar 120 poin atau 0,70 persen ke posisi Rp16.985 per dolar AS.
Menurut analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, penguatan rupiah ini nggak lepas dari kondisi global yang mulai lebih "adem". Salah satu pemicunya adalah kabar gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Dengan meredanya ketegangan, tekanan dari luar negeri juga ikut berkurang. Dampaknya, harga minyak dan indeks dolar AS ikut turun, ini jadi angin segar buat rupiah.
Baca juga: Rupiah Melemah Imbas Moody’s Revisi Outlook Indonesia, Berapa Nilainya?
Rully memperkirakan, pergerakan rupiah hari ini masih akan cenderung stabil dengan kecenderungan menguat tipis, di kisaran Rp17.050–Rp17.100 per dolar AS.
Kalau melihat perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran.
Bahkan, Selat Hormuz yang sempat jadi perhatian dunia disebut akan segera dibuka kembali.
Menariknya, kesepakatan ini ternyata melibatkan pihak ketiga. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, disebut ikut mendorong tercapainya jeda konflik ini.
Rencananya, Iran dan Amerika Serikat juga akan melanjutkan pembicaraan di Islamabad pada Jumat (10/4/2026).
Tapi, Iran menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukan berarti konflik benar-benar selesai. Kalau ada pelanggaran sedikit saja, mereka siap merespons dengan tegas.
Di sisi lain, kondisi dalam negeri juga masih jadi perhatian pasar. Investor saat ini sedang memantau kondisi fiskal Indonesia, termasuk defisit anggaran dan cadangan devisa yang akan segera diumumkan oleh Bank Indonesia.
Baca juga: Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah dan Dampak Nyatanya buat Kehidupan Sehari-hari!
Rully juga menyoroti tekanan dari sisi pengeluaran pemerintah, terutama untuk subsidi BBM.
Ditambah lagi, rasio pajak yang cenderung menurun bisa bikin defisit anggaran makin melebar. Bahkan, ada kekhawatiran defisit bisa menembus 3 persen tahun ini.
Jadi, meskipun rupiah lagi menguat, tetap ada beberapa faktor yang perlu diwaspadai ke depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara