Selasa, 31 MARET 2026 • 17:16 WIB

Pakar Nilai Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Tidak Masalah, Ternyata Ini Alasannya

Author

Petugas mengisi BBM jenis pertalite ke sebuah mobil di SPBU Jalan G Obos, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

INDOZONE.ID - Isu kenaikan harga BBM non subsidi tengah mencuat di tengah tekanan global karena memanasnya konflik geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah. Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Sekjen HIPMI), Anggawira, menilai kenaikan tersebut dalam kategori yang wajar dan sulit untuk dihindari.

Ia mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar energi global yang saling terhubung. Selain itu, Indonesia tidak memiliki kendali penuh atas fluktuasi harga minyak dunia yang saat ini mengalami tekanan signifikan.

Ilustrasi stok bbm aman. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

"Kenaikan harga BBM non subsidi dalam situasi geopolitik seperti sekarang memang wajar dan sulit dihindari. Harga BBM non subsidi pada dasarnya mengikuti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, biaya pengapalan dan premi risiko akibat konflik," kata Anggawira kepada wartawan, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan harga minyak jenis Brent sudah bergerak di kisaran 100 hingga USD115 per barel, bahkan sempat lebih tinggi karena gangguan di Selat Hormuz, Iran. Ini memberikan tekanan besar terhadap harga BBM dalam negeri. Kondisi ini membuat ruang penyesuaian harga menjadi terbuka jika tren tersebut bertahan.

Baca juga: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, Apa Kata Ekonom?

Di Tanah Air, harga BBM non subsidi, seperti Pertamax berada di kisaran Rp12.300 per liter, Dexlite Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter. Jika harga minyak dunia tidak kunjung turun, penyesuaian harga dinilai menjadi langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.

Anggawira menilai kenaikan harga BBM non subsidi masih tergolong wajar berada pada kisaran 5 hingga 10 persen. Akan tetapi, dia juga mengingatkan pemerintah tetap melakukan penyesuaian secara bertahap guna meminimalkan dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

"Secara realistis, kenaikan yang masih dianggap wajar untuk BBM non subsidi berada di kisaran 5 sampai 10 persen. Artinya, Pertamax yang saat ini sekitar Rp12.300 per liter bisa naik ke kisaran Rp12.900 sampai Rp13.500 per liter," tuturnya.

Pada sisi dunia usaha, ia menyebut kenaikan harga BBM memang akan berdampak pada peningkatan biaya operasional, terutama di sektor transportasi dan logistik. Akan tetapi, kondisi ini juga mendorong pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan inovasi dalam penggunaan energi.

"Untuk sektor trucking, logistik, pelayaran, bus, travel hingga distribusi barang, komponen BBM bisa mencapai 30 sampai 40 persen dari total biaya operasional," kata Anggawira.

Kenaikan BBM Konsekuensi dari Sistem Energi Global

Terpisah, pakar kebijakan publik sekaligus dosen Fisip Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai kenaikan harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi logis dari sistem energi global yang terintegrasi. Menurut dia, fenomena ini mencerminkan adanya transmisi harga dari pasar internasional ke domestik.

Baca juga: MPR Dukung WFH Pasca Lebaran, Dinilai Efektif Tekan Konsumsi BBM

"Kenaikan harga BBM non-subsidi di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah merupakan konsekuensi yang sulit dihindari dalam sistem energi global yang saling terhubung," kata Kristian.

Kepada masyarakat, Kristian menyebut masyarakat harus bersikap rasional dalam menghadapi situasi ini, termasuk dengan menghemat konsumsi energi dan menyesuaikan pola pengeluaran rumah tangga.

"Pemerintah juga diharapkan mampu merespons dengan kebijakan yang transparan, bertahap, serta memperkuat perlindungan sosial bagi kelompok rentan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU