Kamis, 05 MARET 2026 • 14:28 WIB

Industri Indonesia Ikut Deg-degan Dampak Konflik AS-Israel dan Iran, Ini Sektor Paling Terdampak

Author

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan langkah Indonesia buntut konflik AS-Israel dan Iran. (Dok. Humas Kemenperin)

INDOZONE.ID - Eskalasi konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran serius terhadap harga energi global dan rantai pasok industri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) langsung merespons dengan serangkaian langkah antisipasi untuk melindungi manufaktur nasional dari dampak tidak langsung konflik tersebut.

Langkah perlu diambil karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit di antara Iran dan Oman yang kini berada di tengah zona ketegangan militer.

Kalau jalur itu terganggu, harga minyak global melonjak. Dan kalau harga minyak naik, biaya produksi industri manufaktur ikut terkerek.

"Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting," Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Kemenperin Permudah TKDN, Industri Kecil Bisa Self Declare

Baca juga: Kemenperin Percepat Sertifikasi Halal, Industri Makin Kuat

Ia menekankan bahwa setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi.

"Kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur," lanjut Agus.

Indonesia,nsebagai negara dengan sektor manufaktur yang masih bergantung pada impor bahan baku dan energi fosil, guncangan geopolitik di belahan dunia lain bisa terasa langsung di lantai pabrik dalam negeri.

Industri yang Paling Terdampak?

Tidak semua industri sama rentannya. Sektor yang paling terpapar adalah petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, tekstil, serta industri makanan dan minuman.

Semua sektor yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan bahan baku impor.

Agus mengingatkan konsekuensinya dampak konflik tersebut.

"Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik," katanya.

Hal itu, lanjut Agus, tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, kapal tanker yang menghindari kawasan konflik harus memutar rute lebih jauh.

Waktu pengiriman oun jadi lebih lama, biaya asuransi maritim meningkat. Ujungnya masuk ke harga pokok produksi.

Kemenperin Siapkan Apa?

Ada tiga jalur strategi yang sedang dijalankan.

Penguatan industri hulu agar tidak terlalu bergantung impor, percepatan penggunaan produk dalam negeri lewat kebijakan P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri), dan mendorong efisiensi energi serta transisi ke industri hijau.

"Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik," kata Agus.

Kemenperin juga mengaitkan respons ini dengan agenda besar Presiden Prabowo Subianto, yakni swasembada pangan dan energi.

Kedua program itu secara langsung mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor.

"Program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi," jelas Agus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU