INDOZONE.ID - Indonesia memiliki cadangan nikel besar yang jadi sorotan, apalagi sejak tren kendaraan listrik makin naik dan pemerintah mendorong hilirisasi.
Dampak dari fenomena ini terasa sampai ke pasar saham, di mana emiten nikel semakin sering berada dalam radar investor.
Saham nikel itu peluangnya besar, tetapi risikonya juga nggak kecil. Harga komoditas bisa naik turun cepat, regulasi bisa berubah, dan isu lingkungan selalu ikut membayangi.
Jadi sebelum masuk, lebih baik kenali dulu daftar dan profil perusahaan nikel yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca juga: Shell Kaji Masa Depan Unit Renewables Sprng, Ingin Ciptakan Nilai Jangka Panjang
Daftar Emiten Saham Nikel di BEI
1. Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM termasuk pemain besar di sektor tambang dan bagian dari holding BUMN pertambangan MIND ID. Bisnisnya terintegrasi, dari tambang sampai smelter.
Karena model bisnisnya lengkap dan didukung kebijakan hilirisasi, ANTM sering dianggap sebagai pilihan yang lebih stabil untuk jangka panjang.
2. Vale Indonesia Tbk (INCO)
INCO fokus memproduksi nickel matte yang jadi bahan penting untuk baja tahan karat dan baterai EV. Perusahaan ini terafiliasi dengan grup global, jadi dari sisi pengalaman dan teknologinya sudah cukup matang.
Banyak investor melihat INCO sebagai opsi yang lebih defensif di sektor nikel karena operasionalnya relatif konsisten.
3. Harum Energy Tbk (HRUM)
HRUM awalnya dikenal sebagai emiten batu bara. Tapi sejak 2021, mereka mulai ekspansi ke nikel dengan mengakuisisi tambang dan proyek smelter.
Strateginya menarik karena punya dua kaki di energi dan nikel. Namun karena masih tahap pengembangan, pergerakannya juga cenderung lebih agresif.
4. Ifishdeco Tbk (IFSH)
IFSH adalah pemain skala menengah yang beroperasi di Sulawesi Tenggara, dengan fokusnya di penambangan dan pengolahan bijih nikel.
Meski belum sebesar ANTM atau INCO, peluang tumbuhnya tetap ada, terutama jika proyek hilirisasi berjalan optimal.
5. Central Omega Resources Tbk (DKFT)
DKFT termasuk pemain lama yang sudah punya fasilitas smelter dan ekspor ferronickel. Sebagian pelaku pasar melihat saham ini memiliki potensi jangka menengah, tapi tetap perlu dicermati dari sisi kinerja dan arus kasnya.
6. Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
KKGI sebelumnya fokus di batu bara, lalu mulai masuk ke nikel sebagai langkah diversifikasi.
Langkah ini membuka peluang baru, tapi karena masih dalam proses transisi, investor biasanya menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum agresif masuk.
Baca juga: Indeks Berjangka Wall Street Menguat Usai Data Ekonomi AS Dirilis
7. Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
NCKL atau Harita Nickel dikenal sebagai perusahaan nikel terintegrasi yang fokus pada hilirisasi. Mereka memiliki fasilitas smelter dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang relevan untuk bahan baku baterai EV.
Sejak IPO pada 2023, saham ini cukup jadi perhatian karena posisinya sebagai pure-play nikel.
8. Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE)
MINE termasuk pendatang baru yang melantai di BEI pada 2025, bergerak di tambang dan logistik nikel di Sulawesi.
Sebagai pemain baru, prospeknya masih panjang, tapi tantangan operasional dan efisiensi tetap jadi catatan penting.
Kenapa Saham Nikel Banyak Dilirik?
1. Dorongan Kendaraan Listrik
Nikel adalah bahan utama baterai lithium-ion. Selama tren EV terus tumbuh, permintaan nikel industri juga ikut terdorong.
2. Hilirisasi
Larangan ekspor bijih mentah membuat perusahaan yang punya smelter atau pengolahan sendiri berpotensi menikmati margin lebih tinggi.
3. Potensi Kenaikan Harga
Walau volatilitas tinggi, kebutuhan energi bersih dan elektrifikasi global bisa jadi pendorong permintaan dalam jangka panjang.
4. Diversifikasi Portofolio
Untuk yang portofolionya masih didominasi saham perbankan atau konsumer, sektor nikel bisa jadi variasi tambahan.
Potensi saham nikel di BEI memang besar seiring tren energi bersih dan kendaraan listrik, tapi kamu tetap perlu memikirkan strategi dan perhitungan matang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Idx.co.id