Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 16:37 WIB

AS Dorong Pendanaan AI dan Teknologi Perikanan di APEC di Tengah Persaingan dengan Cina

Author

Ilustrasi persaingan Amerika dan Cina (freepik). 

INDOZONE.ID - Pemerintahan Trump mempromosikan ekspor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pengawasan maritim dalam pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Cina selatan pekan ini. 

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk menandingi pengaruh teknologi dan maritim Beijing di kawasan. 

Casey Mace, pejabat senior AS untuk APEC, mengumumkan peluncuran dana senilai 20 juta dolar AS untuk mendukung adopsi teknologi AI buatan Amerika oleh ekonomi mitra di kawasan Asia-Pasifik.

Baca juga: Mendag Pastikan Perdagangan di Aceh dan Sumatra Berangsur Pulih Pascabencana

Persaingan Teknologi di Kawasan

Inisiatif ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke Cina pada April mendatang serta penyelenggaraan KTT Pemimpin APEC di Shenzhen pada November. 

Kedua agenda tersebut diproyeksikan menjadi panggung persaingan teknologi dan pengaruh ekonomi yang semakin intensif antara AS dan Cina. 

Cina sendiri tengah berupaya menutup kesenjangan teknologi AI dengan AS, meskipun keterbatasan akses terhadap peralatan manufaktur chip canggih menjadi hambatan utama.

Baca juga: Pasar Saham Asia Melonjak ke Puncak Baru, Sektor Teknologi Jadi Motor Penggerak

Pandangan Berbeda tentang Tata Kelola AI

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa teknologi AI Cina digunakan untuk mempromosikan propaganda dan sensor Partai Komunis Cina, serta visi tata kelola AI-nya dirancang untuk mendukung represi otoriter. 

Pernyataan ini kontras dengan klaim Cina yang menyatakan dukungannya terhadap kerja sama global dalam tata kelola AI dan secara konsisten menolak tuduhan Barat bahwa ekspor teknologi mereka memfasilitasi sensor. 

Pada Juli tahun lalu, Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan memastikan teknologi, standar, dan model tata kelola AI Amerika diadopsi secara global.

Baca juga: Jangan Salah Paham, Ini Perbedaan Investasi dan Trading yang Sering Tertukar

Teknologi Maritim untuk Perangi Penangkapan Ikan Ilegal

Selain AI, AS juga mempromosikan teknologi sektor swasta Amerika yang dirancang untuk memerangi penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU Fishing). 

Ruth Perry, Penjabat Asisten Deputi Menteri Luar Negeri untuk Urusan Kelautan, Lingkungan Internasional, dan Ilmiah, menyatakan bahwa armada perikanan jarak jauh Cina yang berjumlah 18 juta kapal menimbulkan tantangan penegakan hukum bagi negara-negara pesisir kecil. 

Perry menegaskan, "Banyak negara terkena dampak negatif dan Cina adalah pelakunya… ukuran armada itu tidak dapat diabaikan di seluruh Pasifik." 

Ia merujuk pada laporan yang mengindikasikan adanya tingkat koordinasi negara yang tidak biasa dalam aktivitas penangkapan ikan Cina.

Baca juga: Kejar Tax Ratio 12 Persen: Strategi Tegas Negara Tutup Kebocoran Pajak dan Pulihkan Kepercayaan

Inovasi Pemantauan Berbasis Teknologi

Perry mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan AS sedang mengembangkan berbagai teknologi untuk membantu pemerintah memantau aktivitas perikanan, termasuk pelacakan kapal berbasis satelit, analitik berbasis kecerdasan buatan, sistem deteksi akustik, serta pelampung laut yang dilengkapi sensor. 

Penangkapan ikan ilegal, menurut Perry, sering dikaitkan dengan kejahatan transnasional lainnya seperti kerja paksa, perdagangan manusia, dan penyelundupan. 

Terkait regulasi Cina, Perry mencatat bahwa Undang-Undang Perikanan Cina yang telah direvisi akan berlaku efektif mulai Mei mendatang. 

Baca juga: Daftar Emiten Bakrie Group di Bursa Efek Indonesia, Apa Saja?

"Mereka mengatakan hal-hal yang benar dan kami ingin melihat apakah mereka akan menindaklanjuti dengan tindakan nyata," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU