INDOZONE.ID - Ekonom, Piter Abdullah Redjalam berbicara terkait peran serta transportasi online dalam hal ini ojek online maupun taksi online. Transportasi online sendiri kini dinilai menjadi salah satu tulang punggung ekonomi digital.
"Penelitian Prasasti menunjukkan bahwa sektor digital memiliki Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang lebih rendah dibanding sektor tradisional, artinya setiap rupiah investasi di sektor digital menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," kata Piter seperti dikutip pada Rabu (29/10/2025).
"Salah satu tulang punggung ekonomi digital ialah layanan on-demand seperti ojek online, taksi online dan kurir online. Ekosistem ini bukan sekadar menghubungkan pengemudi dan konsumen, tetapi juga menopang jutaan UMKM," sambungnya.
Pada tahun 2023 saja dia mengatakan kontribusi ride hailing terhadap PDB nasional mencapai Rp382,62 triliun atau 2 % PDB sekaligus menjadi bantalan lapangan kerja di tengah gelombang PHK sektor manufaktur.
Baca juga: Kisah Sukses UMKM Kerupuk di Sidoarjo Menembus Pasar Ekspor
Dengan tumbuhnta sektor ini, dia mengatakan polemik mulai muncul berkaitan dengan besaran komisi baik untuk aplikator maupun untuk driver. Saat ini, pemerintab sendiri telah menetapkan batas maksimum komisi 20% dengan kewajiban 5% dialokasikan untuk program kesejahteraan driver.
"Ditengah pertumbuhan pesat sektor ini, masih muncul protes dari sebagian driver yang menyoroti besaran komisi. Bagi mereka, kebijakan aplikator dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan pengemudi," ucapnya.
Meski begitu, dia menyebut keseimbangan harus dijaga baik antara driver, aplikator sampai dengan pemerintah itu sendiri.
"Keseimbangan harus dijaga. Aplikator menjaga transparansi, pemerintah memastikan regulasi yang adil dan driver memahami perannya sebagai mitra mandiri," katanya.
Baca juga: Kementerian UMKM: KUR Serap 11 Juta Tenaga Kerja di Seluruh Indonesia
Hasil Survei
Sedangkan jika membahas hasil survei, survei Tenggara Strategics yang dilakukan pada September 2025 terhadap 1.052 driver aktif di Jabodetabek menunjukkan hasil mengejutkan.
Sebanyak 82% responden lebih memilih potongan komisi 20% dengan order tinggi ketimbang potongan 10% dengan order sepi.
"Dari mereka yang pernah mencoba platform dengan komisi lebih rendah, 85% menyatakan penghasilannya sama saja atau bahkan lebih rendah. Menariknya, 85% driver tidak keberatan dengan status mereka sebagai mitra, karena fleksibilitas jam kerja dinilai jauh lebih penting daripada status pekerja tetap," tukasnya.
Survei kedua dari Paramadina Public Policy Institute memperkuat temuan itu. Dengan melibatkan 1.623 responden di enam kota besar, sebanyak 60,8% driver juga memilih potongan 20% disertai promo dan insentif, dibanding 10% tanpa promo.
Lebih jauh, 81% responden mengaku lebih mengutamakan stabilitas pendapatan harian, bukan margin per order. Mereka juga menyadari potongan 20% digunakan aplikator untuk membiayai promosi, diskon pelanggan, hingga insentif bagi driver seperti voucher servis motor, paket data, dan sembako.
Kontribusi Raksasa bagi Ekonomi Digital
Piter mengatakan jika layanan ride hailing menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia. Sektor ini dikatakannya juga terbukti menyerap tenaga kerja di tengah gelombang PHK manufaktur, sekaligus menopang jutaan UMKM lewat layanan logistik dan pesan-antar.
"Pemerintah sendiri menargetkan nilai ekonomi digital nasional akan mencapai USD 210–360 miliar atau sekitar Rp5.800 triliun dalam lima tahun ke depan, dengan ride-hailing sebagai salah satu kontributornya," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan