Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 29 JANUARI 2026 • 19:28 WIB

Prasasti Economic Forum 2026: Burhanuddin Abdullah Tegaskan Indonesia Harus Keluar dari Gejala Inersia

Prasasti Economic Forum 2026: Burhanuddin Abdullah Tegaskan Indonesia Harus Keluar dari Gejala InersiaBoard of Advisors Prasasti Burhanuddin Abdullah (press release)

INDOZONE.ID - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menyelenggarakan Prasasti Economic Forum 2026 untuk membahas arah perekonomian Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. 

Forum ini sebagai momentum penting untuk memperdalam diskusi mengenai tantangan struktural ekonomi nasional, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Dalam speech-nya, Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan siklis, melainkan struktural.

Baca juga: Kepala Bappenas Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bukan Hal Mustahil untuk Capai Indonesia Emas

Burhan mengapresiasi, Indonesia bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen secara konsisten. Namun, capaian itu juga mencerminkan keterbatasan kemampuan ekonomi nasional untuk berakselerasi ke tingkat yang lebih tinggi.

“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas. Tantangan kita bukan kurangnya pertumbuhan, melainkan bagaimana keluar dari pola yang membuat pertumbuhan sulit dipercepat,” ujar Burhanuddin.

Burhanuddin menegaskan, untuk keluar dari inersia tersebut dibutuhkan keberanian kebijakan, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor. Selain itu, kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan menjadi fondasi penting dalam mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif. 

Sejalan dengan pandangan tersebut, Executive Director Prasasti Nila Marita, menyebut bahwa Prasasti punya peran penting mempertemukan perspektif pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung perumusan kebijakan publik yang inklusif.

Baca juga: Kesepakatan Tarif RI-AS Mundur ke Februari 2026, Airlangga Pastikan Tak Ada Hambatan

“Sebagai think-tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama: rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi. Melalui forum ini, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai tantangan dan peluang ekonomi Indonesia, serta mendorong pertukaran gagasan yang tidak hanya konstruktif, tetapi juga aplikatif,” ujar Nila.

Sementara itu, Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, mengungkapkan bahwa Prasasti memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 - 5,3 persen.

Ada beberapa faktor yang menjadi penopang untuk proyeksi tersebut. Pertama, konsumsi domestik yang diperkirakan akan membaik seiring stabilisasi kepercayaan konsumen, meskipun ruang akselerasinya masih terbatas. 

Kedua, kualitas dan efektivitas eksekusi fiskal adalah menjadi faktor kunci, khususnya di tengah ruang penerimaan negara yang relatif sempit. Ketiga, dinamika nilai tukar rupiah perlu dicermati secara hati-hati.

“Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, namun pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Prasasti Economic Forum 2026: Burhanuddin Abdullah Tegaskan Indonesia Harus Keluar dari Gejala Inersia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!