INDOZONE.ID - Investasi saham sekarang semakin dilirik banyak orang, apalagi untuk yang mau mulai bangun cuan jangka panjang. Tapi sebelum terjun lebih jauh, ada istilah dasar yang wajib kamu pahami, yaitu bullish dan bearish.
Secara simpel, harga saham itu selalu naik turun karena dipengaruhi permintaan dan penawaran.
Nah, dari pergerakan itu, muncul tren pasar yang biasanya disebut bullish atau bearish. Dua istilah ini sering dipakai investor untuk menentukan kondisi pasar sedang naik atau turun.
Baca juga: Apa Itu Withdraw Saham? Simak Cara Kerja dan Tips Aman Melakukannya
Pengertian Bullish dan Bearish dalam Investasi Saham
1. Bullish
Bullish adalah kondisi pasar saat harga saham sedang naik atau menunjukkan tren menguat. Biasanya, grafik akan terlihat menanjak ke atas.
Istilah ini dilambangkan dengan banteng yang menyerang dengan tandukan ke atas. Makanya, kondisi bullish identik dengan kenaikan.
Dalam fase ini, pasar lagi ramai aksi beli. Banyak investor optimistis jika harga akan terus naik, jadi mereka berlomba-lomba masuk pasar atau menahan saham lebih lama dengan harapan cuan lebih besar ke depannya.
Jika kamu lihat harga saham naik terus-menerus dalam periode tertentu dan sentimen pasar sedang positif, itu tandanya pasar lagi bullish.
Baca juga: Mengenal IDX30, Indeks Saham dengan Likuiditas Tinggi
2. Bearish
Kebalikan dari bullish, bearish adalah kondisi pasar saat harga saham sedang turun atau melemah. Grafik biasanya terlihat menukik ke bawah.
Istilah ini diambil dari cara beruang menyerang, yaitu mencakar dari atas ke bawah. Makanya, bearish identik dengan penurunan.
Dalam kondisi ini, pasar didominasi aksi jual. Banyak investor mulai pesimis dan khawatir harga akan terus turun, jadi mereka memilih jual saham untuk menghindari kerugian lebih besar.
Secara teori, kondisi bearish sering dikaitkan dengan penurunan indeks pasar sekitar 20% atau lebih, biasanya dipicu oleh kondisi ekonomi yang kurang stabil.
Perbedaan Bullish dan Bearish
Agar semakin terbayang, ini dia perbedaan utama antara bullish dan bearish yang sering jadi acuan investor:
1. Kondisi Ekonomi
Bullish biasanya muncul saat ekonomi sedang tumbuh dan stabil, sedangkan bearish sering terjadi ketika kondisi ekonomi melemah atau tidak pasti.
2. Pergerakan Harga
Dalam kondisi bullish, harga saham cenderung naik terus (uptrend). Sementara di kondisi bearish, harga saham justru turun (downtrend).
3. Sentimen Investor
Pasar bullish dipenuhi rasa optimistis, banyak yang yakin harga akan terus naik. Sebaliknya, pasar bearish lebih didominasi rasa pesimis dan kekhawatiran.
Baca juga: Apa Itu RUPS? Simak Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerjanya
4. Aktivitas Pasar
Saat bullish, aksi beli lebih banyak terjadi. Sedangkan saat bearish, pasar lebih ramai aksi jual.
5. Acuan Teori Pasar
Dalam teori Dow, bullish ditandai dengan kenaikan indeks sekitar 20% atau lebih, sedangkan bearish ditandai dengan penurunan di angka yang sama.
Memahami bullish dan bearish itu penting untuk bantu kamu baca arah pasar. Dengan begitu, kamu bisa lebih bijak dalam ambil keputusan, kapan waktu yang pas untuk beli, tahan, atau jual saham.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BNI Sekuritas