INDOZONE.ID - Dunia saham memang kelihatan ribet di awal. Banyak istilah asing yang sering sliweran di timeline media sosial, grup Telegram, sampai obrolan tongkrongan para investor.
Mulai dari ARA, ARB, bullish, bearish, sampai cut loss. Buat pemula, istilah-istilah ini kadang bikin minder karena takut salah paham dan akhirnya salah ambil keputusan.
Lewat video berjudul “ISTILAH SAHAM UNTUK PEMULA (APA ITU ARA, ARB)” yang diunggah oleh YouTube @Yusuf Bicara Investasi, berbagai istilah dasar saham dijelasin dengan bahasa yang simpel dan gampang dipahami.
Ini jadi semacam “kamus wajib” buat investor pemula biar nggak cuma ikut-ikutan, tapi paham apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham.
Auto Reject Atas dan Auto Reject Bawah
Salah satu istilah yang paling sering bikin penasaran pemula adalah ARA dan ARB. Dua istilah ini sebenarnya adalah sistem pengaman yang diterapkan Bursa Efek Indonesia, untuk mengontrol pergerakan harga saham agar tidak terlalu liar dalam satu hari perdagangan.
ARA atau Auto Reject Atas adalah batas maksimal kenaikan harga saham dalam satu hari.
Artinya, ketika harga saham sudah naik sampai batas tertentu, sistem bursa akan otomatis menolak transaksi beli di harga yang lebih tinggi.
Tujuannya supaya harga saham tidak melonjak terlalu ekstrem hanya karena euforia sesaat.
Besaran ARA ini berbeda-beda tergantung harga sahamnya. Untuk saham dengan harga di atas Rp5.000, batas kenaikan maksimalnya adalah 20 persen.
Contohnya saham-saham berharga tinggi seperti UNTR atau ITMG. Kalau harga saham berada di rentang Rp200 sampai Rp5.000, batas ARA-nya lebih longgar, yaitu 25 persen.
Saham seperti BRI atau Sido Muncul masuk ke kategori ini. Sementara itu, saham dengan harga di bawah Rp200 punya ruang kenaikan paling besar, yaitu sampai 35 persen, seperti saham BUMI.
Di sisi lain, ada ARB atau Auto Reject Bawah. Ini adalah kebalikan dari ARA. ARB menandai batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari.
Saat video ini dibuat, Bursa Efek Indonesia menetapkan batas ARB sebesar minus 7 persen untuk semua fraksi harga. Jadi, mau saham mahal atau murah, maksimal penurunannya tetap sama.
Tujuan ARA dan ARB di Pasar Saham
ARA dan ARB bukan dibuat tanpa alasan. Sistem ini hadir untuk melindungi investor dari pergerakan harga yang terlalu ekstrem dalam waktu singkat.
Bayangkan kalau tidak ada batasan, harga saham bisa naik atau turun ratusan persen hanya dalam sehari karena rumor atau kepanikan massal.
Dengan adanya ARA, investor punya waktu untuk berpikir lebih rasional. Harga yang naik mentok dalam sehari memberi jeda agar pelaku pasar bisa menganalisis apakah kenaikan tersebut wajar atau hanya efek gorengan sesaat.
Begitu juga dengan ARB, yang berfungsi menahan kepanikan agar harga tidak anjlok terlalu dalam dalam waktu singkat.
Dampak ARA dan ARB bagi Investor
Meski berfungsi sebagai pengaman, ARA dan ARB tetap punya dua sisi. Di satu sisi, ARA bisa jadi momen menyenangkan buat investor yang sudah punya saham sejak harga bawah. Melihat saham ARA berturut-turut sering bikin euforia karena portofolio terlihat hijau semua.
Namun di sisi lain, ARA juga bisa bikin investor yang telat masuk jadi gigit jari. Ketika saham sudah ARA, peluang beli di harga bawah hampir mustahil karena antrean beli biasanya menumpuk.
Begitu juga dengan ARB. Saat saham ARB, investor yang ingin keluar sering kesulitan menjual karena antrean jual membludak.
Risiko terbesar dari ARA dan ARB adalah keputusan emosional. Banyak pemula yang FOMO saat lihat saham ARA, lalu beli di harga puncak.
Sebaliknya, ada juga yang panik saat ARB dan langsung cut loss tanpa pertimbangan matang.
Baca juga: Pasar Monopsoni: Ketika Satu Pembeli Jadi Penguasa Harga di Pasar
Bagger dan Multi Bagger dalam Investasi
Selain ARA dan ARB, istilah lain yang sering muncul adalah bagger dan multi bagger. Istilah ini merujuk pada tingkat keuntungan yang didapat investor.
Bagger berarti keuntungan 100 persen. Misalnya, modal awal 10 juta rupiah, lalu nilainya menjadi 20 juta rupiah.
Sementara itu, multi bagger berarti keuntungan berlipat ganda hingga ratusan persen. Ada istilah two bagger, three bagger, dan seterusnya.
Three bagger artinya keuntungan mencapai 300 persen dari modal awal. Istilah ini sering jadi impian investor karena mencerminkan hasil investasi yang luar biasa.
Namun, penting diingat bahwa mengejar multi bagger juga punya risiko besar. Tidak semua saham bisa naik berkali-kali lipat tanpa fundamental yang kuat.
Bearish dan Bullish, Dua Arah Pasar Saham
Dalam dunia saham, kondisi pasar sering digambarkan dengan istilah bearish dan bullish.
Bearish adalah kondisi ketika pasar sedang lesu, harga saham cenderung turun, dan mayoritas layar perdagangan dipenuhi warna merah.
Situasi ini biasanya dipicu oleh sentimen negatif seperti krisis ekonomi, isu global, atau laporan keuangan yang mengecewakan.
Sebaliknya, bullish adalah kondisi pasar yang sedang semangat. Harga saham banyak yang naik, tren menguat, dan warna hijau mendominasi.
Dalam kondisi bullish, saham-saham bahkan bisa ARA beberapa hari berturut-turut karena optimisme investor yang tinggi.
Cut Loss, Keputusan Pahit tapi Penting
Cut loss adalah tindakan menjual saham dalam kondisi rugi. Bagi banyak investor, terutama pemula, cut loss sering terasa berat karena secara mental sulit menerima kerugian. Padahal, cut loss adalah bagian penting dari strategi manajemen risiko.
Dengan cut loss, investor bisa membatasi kerugian agar tidak semakin dalam. Daripada bertahan di saham yang terus turun tanpa kejelasan, lebih baik melepas dan menyimpan modal untuk peluang lain yang lebih sehat.
Baca juga: Pendapatan Nasional: Ini Cara Negara Ngitung Seberapa “Kaya” Ekonominya
Memahami istilah-istilah saham seperti ARA, ARB, bullish, bearish, bagger, dan cut loss, adalah langkah awal yang wajib buat pemula.
Tanpa pemahaman ini, investor mudah terbawa emosi dan mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri.
Video dari YouTube @Yusuf Bicara Investasi, memberikan gambaran sederhana tapi penting tentang dunia saham.
Dengan bekal pengetahuan dasar ini, investor pemula diharapkan tidak lagi bingung atau minder saat terjun ke pasar modal.
Investasi saham bukan soal ikut-ikutan, tapi soal paham risiko, strategi, dan tujuan jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube