Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 07:45 WIB

Diversifikasi itu Strategi Aman Investasi, Tapi Nggak Selalu Harus Banyak-Banyakan Aset

Author

Ilustrasi Diversifikasi Saham. (Freepik)

INDOZONE.ID - Di dunia investasi, istilah diversifikasi hampir selalu muncul sebagai “jurus wajib” biar nggak boncos. Nasihat klasiknya simpel yaitu jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.

Tapi di sisi lain, ada juga investor legendaris yang bilang kebanyakan diversifikasi justru bikin kita nggak fokus dan nggak benar-benar paham apa yang dibeli. Jadi sebenarnya, diversifikasi itu penting atau malah overrated?

Dilansir dari video yang berjudul Diversification: Many Investors Miss an Important Point dari YouTube @TheSwedishInvestor mencoba membongkar sisi lain dari diversifikasi, terutama buat investor muda.

Bukan cuma soal nyebar aset ke mana-mana, tapi juga soal usia, pendapatan, dan cara melihat risiko secara lebih realistis. Yuk, kita bahas diversifikasi selengkapnya!

Baca juga: Value Investing Bukan Sekadar Nabung Saham, Ini Strategi Jangka Panjang ala Investor!

Diversifikasi Itu Apa Sih Sebenarnya?

Secara sederhana, diversifikasi adalah strategi menyebar investasi ke beberapa aset berbeda untuk mengurangi risiko.

Tujuannya biar kalau satu aset lagi turun atau bermasalah, aset lain masih bisa menopang portofolio secara keseluruhan.

Dalam konteks investasi, diversifikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa lewat pembagian ke beberapa saham dari sektor berbeda, kombinasi saham dan obligasi, masuk ke reksa dana, emas, properti, bahkan aset digital. Intinya, risiko nggak ditumpuk di satu titik saja.

Strategi ini sering disebut sebagai salah satu “makan siang gratis” di dunia investasi, karena secara teori bisa menurunkan risiko tanpa harus mengorbankan potensi imbal hasil terlalu besar.

Dua Pandangan yang Sering Bertabrakan

Kalau kamu sering baca atau nonton konten investasi, pasti nemu dua kubu besar soal diversifikasi. Kubu pertama percaya bahwa makin banyak aset, makin aman. Mereka menyarankan beli banyak saham atau langsung masuk indeks supaya risiko tersebar luas.

Sebaliknya, kubu kedua justru bilang diversifikasi berlebihan itu tanda investor nggak ngerti apa yang dia beli. Tokoh seperti Warren Buffett dan Charlie Munger sering menekankan pentingnya fokus ke sedikit perusahaan yang benar-benar dipahami secara mendalam.

Menariknya, video dari The Swedish Investor  bilang dua-duanya sering melewatkan satu poin penting. Poin ini jarang dibahas, padahal sangat relevan buat investor muda.

Aset Terbesar Anak Muda Bukan Saham

Buat investor muda, aset terbesar sebenarnya bukan saham, kripto, atau reksa dana. Aset terbesar justru adalah pendapatan di masa depan.

Gaji yang bakal diterima selama puluhan tahun ke depan nilainya jauh lebih besar dibanding tabungan atau portofolio investasi saat ini.

Sebagai ilustrasi, seseorang usia 30 tahun dengan penghasilan tahunan standar bisa menghasilkan jutaan dolar sepanjang hidupnya sampai pensiun.

Kalau dihitung dengan konsep nilai sekarang atau Net Present Value, pendapatan masa depan ini tetap nilainya ratusan ribu dolar.

Bandingkan dengan rata-rata tabungan orang di usia muda yang biasanya masih relatif kecil.

Artinya, secara tidak langsung, kebanyakan anak muda itu sebenarnya sudah “tidak terdiversifikasi” karena sangat bergantung pada satu sumber utama, yaitu gaji.

Diversifikasi Portofolio Nggak Terlalu Ngaruh di Awal

Karena porsi terbesar kekayaan anak muda ada di pendapatan masa depan, pilihan investasi awal seperti beli indeks besar atau satu saham unggulan sebenarnya nggak terlalu berdampak besar ke risiko hidup secara keseluruhan.

Kalau seorang investor usia 25 tahun kehilangan seluruh modal investasinya, itu memang nyesek, tapi secara realistis masih bisa diganti lewat gaji dalam beberapa tahun.

Risiko terbesarnya bukan di portofolio, tapi di kehilangan pekerjaan atau kemampuan menghasilkan uang.

Inilah kenapa diversifikasi portofolio yang terlalu kaku di usia muda sering kali kurang relevan. Fokus berlebihan ke menyebar risiko kecil justru bisa menghambat proses belajar.

Baca juga: Strategi DCA dalam Saham: Cara Santai tapi Konsisten Bangun Investasi Jangka Panjang

Ilustrasi Diversifikasi Saham. (Freepik)

Belajar Jadi Tujuan Utama di Usia Muda

Menurut sudut pandang ini, investasi awal seharusnya difokuskan untuk pembelajaran, bukan sekadar aman-amanan.

Dengan modal kecil, investor muda bisa belajar menganalisis perusahaan, memahami industri, dan melihat bagaimana keputusan bisnis berdampak ke harga saham.

Kalau sejak awal hanya membeli indeks besar tanpa mikir, memang aman, tapi pengalaman analisanya minim. Padahal, pengalaman ini justru sangat berharga ketika nanti modal sudah besar dan kesalahan jadi lebih mahal.

Kehilangan uang di usia muda masih bisa dikejar. Kehilangan kesempatan belajar, justru lebih rugi dalam jangka panjang.

Diversifikasi yang Sebenarnya untuk Anak Muda

Video ini juga menekankan bahwa cara paling efektif mengurangi risiko finansial bagi investor muda bukan lewat portofolio, tapi lewat hidupnya sendiri. Diversifikasi sejati dimulai dari mengamankan sumber pendapatan.

Pendidikan dan skill adalah bentuk diversifikasi paling kuat. Dengan kemampuan yang relevan dan terus berkembang, peluang mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan jadi lebih besar.

Selain itu, mencari sumber penghasilan tambahan seperti freelance, bisnis kecil, atau side hustle juga memperkecil ketergantungan pada satu gaji.

Kesehatan fisik dan mental juga termasuk bentuk diversifikasi. Kedengarannya klise, tapi sakit atau burnout bisa langsung menghantam pendapatan, yang artinya menghantam aset terbesar seseorang.

Contoh Diversifikasi Aset yang Umum

Meski begitu, diversifikasi aset tetap penting, terutama ketika nilai investasi mulai membesar.

Contoh diversifikasi yang umum antara lain membagi dana ke saham dari sektor berbeda, seperti perbankan, teknologi, dan konsumsi.

Bisa juga mengombinasikan saham dengan instrumen yang lebih stabil seperti obligasi atau reksa dana pasar uang.

Emas dan properti sering dipakai sebagai penyeimbang saat pasar saham lagi bergejolak. Intinya, diversifikasi aset bertujuan menjaga stabilitas portofolio dalam jangka panjang.

Diversifikasi Itu Tergantung Usia

Salah satu pesan paling penting dari video ini adalah diversifikasi itu kontekstual. Investor muda yang baru mulai dengan modal kecil nggak perlu terlalu pusing soal diversifikasi ekstrem, selama uang yang dipakai bukan dana darurat.

Sebaliknya, investor yang mendekati usia pensiun harus jauh lebih berhati-hati. Di fase ini, kemampuan mengganti kerugian dengan gaji sudah menurun.

Maka, menyebar investasi ke berbagai aset jadi jauh lebih penting untuk menjaga keamanan finansial.

Baca juga: Mengenal Istilah-Istilah Dalam Saham yang Wajib Dipahami Investor Pemula Biar Nggak Salah Langkah

Ilustrasi Diversifikasi Saham. (Freepik)

Diversifikasi adalah konsep penting dalam investasi, tapi bukan aturan kaku yang berlaku sama untuk semua orang.

Usia, pendapatan, dan fase hidup sangat menentukan seberapa penting diversifikasi portofolio itu dilakukan.

Buat anak muda, fokus belajar, mengembangkan diri, dan mengamankan pendapatan sering kali lebih berdampak dibanding sekadar menyebar aset.

Sementara itu, seiring bertambahnya usia dan besarnya modal, diversifikasi aset tetap jadi strategi utama untuk menjaga stabilitas dan ketenangan finansial jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU