INDOZONE.ID - Banyak orang percaya, kalau investasi bisa bikin kaya. Tapi motivator dan pengusaha, Tung Desem Waringin, punya pandangan yang agak beda.
Dalam video di YouTube-nya/Tung Dasem Waringin, ia justru membongkar mitos ini, dan cerita panjang tentang perjalanan investasinya yang penuh pelajaran berharga. Yuk, simak ulasannya!
Baca juga: Cara Cerdas Kelola Keuangan: Belajar Kaya dengan Pola Pikir Cerdas, Ini Kata Ahli!
Awal Cerita: Ramalan Resesi dan Keputusan Gila Jual Hotel
Balik ke tahun 2017, Tung ikut seminar Robert T. Kiyosaki (penulis “Rich Dad Poor Dad”). Dari situ, ia dapat insight penting yaitu ketika Donald Trump naik jadi presiden AS, bakal ada perang dagang besar-besaran. Nah benar aja, dunia waktu itu gonjang-ganjing.
Prediksi Kiyosaki tentang resesi bikin Tung langsung “gerak cepat”. Tahun 2018, dia jual dua hotel miliknya yaitu Hotel Kartika Graha di Malang dan Star Hotel (sekarang Horizon) di Semarang.
Hasilnya? Pajak yang harus dibayar memang gede banget, tapi Tung punya tujuan jelas yaitu “stay cash.”
Menurut dia, kalau dunia kena resesi, cash is the king. Tapi begitu ekonomi pulih, cash is trash. Dari situ dia belajar, uang tunai itu penting di waktu krisis, tapi kalau krisis lewat, uang harus segera “bekerja” lewat investasi.
Beli Properti, Bukan Panik
Setelah resesi mulai reda, Tung justru gaspol beli properti. “Dalam 39 bulan terakhir, saya beli 39 properti,” katanya.
Semua keputusan itu dia ambil bukan karena ikut-ikutan, tapi karena sudah paham strategi yang namanya asset allocationalias alias pembagian aset.
Menurut Tung, ada tiga jenis alokasi aset:
- Dari penghasilan aktif (gaji atau bisnis).
- Dari total kekayaan.
- Dari penghasilan pasif (hasil investasi yang sudah jalan).
Jadi, orang yang benar-benar paham keuangan bukan asal beli emas, tapi tahu berapa persen uangnya buat properti, emas, saham, atau tabungan darurat.
Baca juga: Penyesalan Keuangan yang Jadi Pelajaran, Apa Saja?
Ngomongin Emas: Tetap Kaya, Bukan Makin Kaya
Nah, ini poin yang paling sering disalahpahami orang. Kata Tung, “Emas itu gak bikin makin kaya, tapi bikin kita tetap kaya.”
Contohnya, dari zaman Nabi Muhammad sampai sekarang, harga satu dinar emas selalu sebanding dengan harga seekor kambing. Artinya, nilai emas memang stabil, tapi gak bikin kamu “naik kelas” secara finansial.
Kalau mau makin kaya, kata Tung, ya masuknya ke bisnis, properti, saham, atau investasi leher ke atas (ilmu dan skill). Karena itu yang bisa ngasih growth, bukan cuma protection.
Perbandingan Keras: Emas vs Saham vs Properti
Tung bahkan kasih simulasi nyata dari pengalaman pribadinya. Tahun 2000, dia punya uang Rp100 juta. Kalau dibelikan:
- Emas: jadi Rp2 miliar di 2025
- Tanah di Alam Sutra: jadi Rp10 miliar
- Saham BCA: jadi Rp27 miliar
Hasilnya jelas yaitu emas aman, tapi pertumbuhannya paling kecil. Properti dan saham jauh lebih ngeri. Tapi tetap, semuanya butuh ilmu dan mental tahan banting.
Baca juga: Cara Membangun Relasi Sehat dengan Uang, Ini Caranya!
Investasi itu bukan soal ikut tren, tapi soal paham strategi. Emas bagus buat jaga nilai kekayaan, tapi kalau pengin nambah kekayaan, jangan berhenti belajar.
Seperti kata Tung, “Emas bikin tetap kaya, bukan makin kaya. Nah yang bikin makin kaya itu, otak dan keberanianmu buat ambil langkah.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube