INDOZONE.ID - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara atau swap currency, dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek di tengah dinamika ekonomi global.
“Menurut saya swap currency ada positifnya, namun ini bukan solusi jangka panjang," kata Esther dikutip dari Antara, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan kebijakan tersebut dapat membantu menahan pelemahan rupiah terhadap mata uang asing melalui penguatan akses likuiditas valuta asing.
Selain itu, kerja sama pembiayaan non-dolar dinilai mampu memperkuat cadangan devisa, sekaligus mendukung kebutuhan transaksi dan pembayaran utang luar negeri.
“Penguatan likuiditas memperkuat cadangan devisa dan memastikan ketersediaan dana untuk kebutuhan transaksi atau pembayaran utang luar negeri,” ujar Esther.
Baca juga: Mengenal Redenominasi Rupiah: Penyederhanaan Angka Uang yang Sering Disalahpahami
Menurut dia, diversifikasi pembiayaan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Esther juga menilai skema cross currency swap dapat membantu pelaku usaha mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar dan suku bunga.
Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 mencapai 148,4 miliar dolar AS. Nilai tersebut dinilai cukup untuk menjaga stabilitas sektor eksternal dan sistem keuangan nasional.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (6/5/2026) ditutup menguat ke level Rp17.387 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.424 per dolar AS.
Meski memiliki dampak positif, Esther menegaskan kebijakan swap currency bukan solusi utama untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik.
“Swap adalah alat stabilisasi sementara, bukan obat utama untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik,” ucapnya.
Baca juga: BI Siapkan 7 Langkah Stabilkan Rupiah, Prabowo Beri Restu
Ia menilai penguatan fundamental ekonomi tetap perlu dilakukan melalui penguatan likuiditas serta diversifikasi pembiayaan agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS.
Menurut Esther, Bank Indonesia juga perlu menjaga stabilitas nilai tukar melalui operasi pasar selama cadangan devisa dinilai memadai.
“Bank Indonesia juga harus melakukan operasi pasar agar nilai tukar stabil dengan catatan cadangan devisa dolar AS cukup,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menyiapkan kerja sama swap currency dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain untuk menjaga stabilitas rupiah.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyatakan BI menyiapkan berbagai langkah penguatan rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing, serta penguatan arus modal masuk dengan dukungan cadangan devisa, yang dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA