INDOZONE.ID - Jika dulu menabung sering identik dengan hidup hemat, menahan semua keinginan, dan merasa serba terbatas, sekarang muncul pendekatan baru yang dianggap lebih masuk akal dan tetap nyaman dijalani, yaitu soft saving.
Konsep ini banyak diminati terutama oleh Gen Z yang ingin tetap memiliki tabungan tanpa harus mengorbankan kebahagiaan hari ini. Jadi, apa itu soft saving dan bagaimana cara menerapkannya? Simak penjelasan berikut ini.
Baca juga: Paylater dan Cicilan Digital, Solusi atau Jebakan Finansial Anak Muda?
Apa Itu Soft Saving?
Soft saving adalah cara menabung yang lebih fleksibel dan realistis. Intinya, seseorang tetap menyisihkan uang untuk masa depan, tetapi masih memberi ruang untuk menikmati hidup saat ini.
Berbeda dengan metode menabung yang sangat ketat, soft saving tidak menuntut seseorang menolak semua pengeluaran non-prioritas. Nongkrong, liburan, beli barang keinginan, atau self reward masih boleh dilakukan selama sesuai kemampuan finansial.
Jadi, soft saving bukan berarti malas menabung, tapi menyesuaikan strategi keuangan dengan kondisi hidup yang nyata.
Kenapa Soft Saving Populer di Kalangan Gen Z?
Tren ini ramai dibicarakan karena dianggap lebih cocok dengan tantangan hidup generasi sekarang.
Baca juga: Perbedaan Passive Income dan Active Income, Mana yang Kamu Butuhkan?
1. Lebih Peduli Keseimbangan Hidup
Gen Z cenderung ingin hidup seimbang antara kerja, istirahat, hiburan, dan keuangan. Mereka tidak ingin stres hanya karena terlalu menekan diri soal uang.
2. Biaya Hidup Semakin Tinggi
Harga kebutuhan pokok, transportasi, sewa tempat tinggal, hingga hiburan terus naik. Karena itu, banyak orang memilih pola keuangan yang lebih realistis.
3. Tetap Ingin Punya Pengalaman
Generasi muda dikenal lebih menghargai pengalaman seperti traveling, konser, atau quality time. Soft saving memungkinkan itu tetap terjadi sambil menabung.
4. Mudah Diatur Lewat Aplikasi Digital
Sekarang banyak aplikasi keuangan yang memudahkan budgeting, tabungan otomatis, hingga investasi kecil-kecilan.
Cara Menerapkan Soft Saving dengan Bijak
Meski terdengar santai, soft saving tetap butuh strategi agar uang tidak habis begitu saja.
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Memiliki tujuan buat menabung lebih jelas. Misalnya:
- Dana darurat
- Liburan akhir tahun
- Beli laptop baru
- DP kendaraan
- Persiapan masa depan
Baca juga: Wajib Tahu! Ini 3 Kesalahan Finansial Sebelum Menikah yang Harus Dihindari
2. Gunakan Sistem Persentase
Daripada memaksa nominal tetap, pakai pembagian dari pemasukan.
Contoh:
- 50 persen kebutuhan pokok
- 30 persen gaya hidup
- 20 persen tabungan atau investasi
Angka ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
3. Pisahkan Rekening
Gunakan rekening berbeda untuk pengeluaran harian dan tabungan agar uang tidak mudah terpakai.
4. Aktifkan Auto Debit
Atur transfer otomatis setiap gajian agar tabungan jalan sebelum uang dipakai belanja.
5. Evaluasi Setiap Bulan
Cek lagi pengeluaran bulanan. Jika jajan atau hiburan terlalu besar, tinggal disesuaikan bulan berikutnya.
Kelebihan dan Kekurangan Soft Saving
Kelebihan:
- Lebih ringan dijalani
- Tidak bikin stres berlebihan
- Menumbuhkan kebiasaan menabung jangka panjang
- Tetap bisa menikmati hasil kerja
- Lebih realistis untuk kondisi sekarang
Kekurangan:
- Terlalu banyak self reward
- Pengeluaran lifestyle kebablasan
- Tabungan jalan di tempat
- Tidak punya dana darurat cukup
Baca juga: Gaji UMR Mau Punya Rumah? Ini 7 Tips Menabung yang Bisa Dicoba
Soft saving menunjukkan jika mengatur uang tidak selalu harus keras dan penuh larangan, yang penting tetap ada tujuan, ada kontrol, dan tetap menyisihkan uang untuk masa depan.
Dengan cara yang lebih realistis, kebiasaan finansial justru bisa lebih awet dijalani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bank Sinarmas